Sabtu, 17 Januari 2015

FISIOLOGI TUMBUHAN



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Tumbuhan, seperti halnya hewan, bisa terkena infeksi akibat berbagai macam virus patogenik, bakteri, dan fungsi yang memiliki fungsi merusak jaringan atau bahkan membunuh tumbuhan. Patogen adalah agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Sebutan lain dari patogen adalah organisme parasit. Umumnya istilah ini diberikan untuk agen yang mengacaukan fisiologi norman hewan atau tumbuhan multiselular. Namun patogen dapat pula menginfeksi organisme uniseluler dari semua kerajaan biologi. Umumnya hanya organisme yang sangat patogen yang dapat menyebabkan penyakit, sementara sisanya jarang menimbulkan penyakit.
Keberadaan patogen tentu akan menimbulkan kerugian dalam hal produksi dan ekonomi, dan merugikan bagi tanaman itu sendiri. Namun disisi lain tanaman memiliki garis – garis pertahanan untuk mencegah infeksi dan menghadapi patogen yang menginfeksi tumbuhan. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap daya hidup dari tumbuhan itu sendiri disamping adanya bantuan dari manusia dalam membasmi patogen – patogen tersebut.












BAB II
PEMBAHASAN
Tumbuhan, seperti halnya hewan, bisa terkena infeksi akibat berbagai macam virus patogenik, bakteri, dan fungsi yang memiliki fungsi merusak jaringan atau bahkan membunuh tumbuhan. Dan seperti hewan, tumbuhan memiliki sistem pertahanan untuk mencegah infeksi dan menghadapi patogen yang menginfeksi tumbuhan.
2.1. Patogen Tumbuhan
Patogen merupakan agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Patogen tumbuhan adalah organisme yang menyebabkan tumbuhan “sakit dan menderita”. Sakit dan menderita diartikan sebagai adanya perubahan fisiologis dan struktural dari suatu tumbuhan. Patogen menyerang tumbuhan inang dengan berbagai macam guna memperoleh zat makanan yang dibutuhkan oleh patogen yang ada pada inang. Untuk dapat masuk ke dalam inang patogen mampu mematahkan reaksi pertahanan tumbuhan inang.
Dalam menyerang tumbuhan, patogen mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh pada komponen tertentu dari tumbuhan dan juga berpengaruh terhadap aktivitas metabolisme tumbuhan inang. Beberapa cara patogen untuk dapat masuk ke dalam inang dengan cara mekanis dan kimia.

2.2. Sistem Pertahanan terhadap Patogen
            Garis pertahanan pertama adalah rintangan fisik “kulit” tumbuhan, yaitu epidermis tubuh tumbuhan primer dan periderm tubuh tumbuhan sekunder. Namun demikian, sistem pertahanan pertama ini bukan tidak dapat ditembus. Virus, bakteri, serta spora dan hifa pada fungsi dapat memasuki tumbuhan melalui luka atau melalui suatu pembukaan alamiah pada epidermis, seperti stomata. Sekali suatu patogen menginvasi, tumbuhan akan mengeluarkan suatu serangan kimia sebagai garis pertahanan kedua yang membunuh patogen dan mencegah penyebarannya dari tempat infeksi. Sistem pertahanan kedua ini ditingkatkan oleh kemampuan tumbuhan yang diwariskan untuk menngenali patogen tertentu.
2.3. Resistensi terhadap Penyakit bergantung pada pengenalan antara gen tumbuhan dan patogen
Patogen dikatakan menjadi virulen apabila suatu tumbuhan memiliki hanya sedikit pertahanan spesifik terhadapnya. Patogen virulen merupakan pengecualian, karena jika tidak demikian, inang dan patogen akan segera mati bersama. Suatu jenis “kompromi” telah  berkembang bersama antara tumbuhan dengan sebagian besar patogennya. Pada kasus seperti itu, patogen akan mendapatkan cukup jalan masuk menuju inangnya, dan tetap ada pada inangnya tanpa merusak atau membunuh tumbuhan tersebut. Tumbuhan itu dikatakan menjadi resisten terhadap patogen khusus tersebut.
Resistensi spesifik terhadap penyakit didasarkan pada apa yang disebut pengenalan gen dengan gen (gene-for-gene recognition), karena memerlukan suatu kesesuaian yang tepat antara suatu adel dalam tumbuhan dengan suatu adel pada patogen. Suatu tumbuhan memiliki banyak gen R (untuk (resistensi), dan setiap patogen memiliki sekumpulan gen Avr (untuk avirulen, yang berarti tidak virulen). Tumbuhan resisten terhadap suatu patogen jika salah satu dari gen R tumbuhan merupakan alel dominan yang berhubungan dengan alel Avr pada patogen tersebut. Bukan gen itu sendiri yang berinteraksi, tentunya, akan tetapi produk gen tersebut. Produk gen R kemungkinan suatu protein reseptor spesifik di dalam sel tumbuhan atau pada permukaannya. Gen Avr kemungkinan memproduksi beberapa molekul “sinyal” dari patogen, yaitu suatu ligan yang mampu berikatan secara spesifik dengan reseptor sel tumbuhan. Produk Avr diyakini memiliki beberapa fungsi yang mana patogen tersebut bergantung padanya, tetapi tumbuhan itu mampu “mengunci” molekul ini sebagai pengumuman terhadap kehadiran patogen tersebut. Pengikatan ligan pada reseptornya akan memicu suatu jalur transduksi sinyal yang menghasilkan respon pertahanan pada jaringan tumbuhan yang terinfeksi. Pertahanan ini meliputi baik peningkatan respon pada tempat infeksi maupun respon yang lebih pada keseluruhan tumbuhan itu.



2.4. Respon Hipersensitif (HR) membatasi suatu infeksi


 













Copyright ©Biology Campbell 8. Permission required for reproduction or display.
Gb. 1. Pertahanan melawan patogen avirulen
Keterangan:
1. resistensi positif didasarkan pada pengikatan molekul – molekul dari patogen ke reseptor – reseptor pada sel – sel tumbuhan
2. identifikasi pada langkah 1 memicu suatu jalur transduksi sinyal
3. dalam suatu respons hipersesitif sel – sel tumbuhan menghasilkan molekul – molekul antimikroba, yang menyegel wilayah – wilayah yang terindikasi dengan memodifikasi dinding selnya, dan kemudian menghancurkan dirinya sendiri. Respons yang terlokasi ini menghasilkan guratan dan melindungi bagian lain dari daun yang terinfeksi
4. sebelum mati, sel – sel yang terinfeksi melepaskan molekul persinyalan, asam metilsalisilat
5. molekul persinyalan didistribusikan ke seluruh bagian lain dari tumbuhan.
6. pada sel – sel yang jauh dari tempat infeksi, metilsalisilat diubah menjadi asam salisilat, yang mengawali suatu jalur transduksi sinyal
7. resistensi sistemik yang diperoleh teraktivasi ; produksi molekul – molekul yang membantu melindungi seldari berbagai macam patogen selama beberapa hari
Meskipun suatu tumbuhan terinfeksi oleh suatu galur virulen-karena tumbuhan tersebut tidak memiliki resistensi genetik terhadap patogen virulen itu-tumbuhan itu dapat mengeluarkan serangan kimia terlokalisir sebagai tanggapan terhadap sinyal molekuler yang dibebaskan dari sel yang rusak akibat infeksi tersebut. Respon itu meliputi produksi senyawa antimikroba yang disebut fitoaleksin (phytoalexin). Infeksi juga mengakibatkan gen yang menghasilkan protein PR (pathogenesis-related-yang berhubungan dengan patogenesis). Beberapa protein ini adalah antimikroba, misalnya yang menyerang molekul dalam dinding sel bakteri. Protein lain mungkin bisa berfungsi sebagai sinyal yang menyebarkan “berita” mengenai infeksi itu ke sel-sel tetangganya. Infeksi juga merangsang pengikatan silang molekul dalam dinding sel dan deposisi lignin, yaitu proses yang memasang barikade lokal yang memperlambat penyebaran patogen ke bagian lain pada tumbuhan.
Jika patogen bersifat avirulen yang didasarkan pada kesesuaian R-Avr, respon pertahanan terlokalisir akan lebih hebat dan disebut repons hipersensitif (hypersensitif response, disingkat HR). Adanya peningkatan produksi fitoaleksin dan protein PR, serta respons “penutupan” lebih efektif dalam membatasi infeksi tersebut. Setelah sel-sel pada tempat infeksi mengeluarkan senyawa kimia pertahanannya dan menutup daerah infeksi, sel-sel tersebut merusak dirinya sendiri. Kita melihat suatu HR sebagai luka atau lesi pada daun atau organ terinfeksi lainnya. Daun yang terlihat amat “sakit” itu akan bertahan hidup, dan respons pertahanannya akan membantu melindungi bagian tumbuhan yang lain.

2.5. Resistensi-perolehan Sistemik (SAR) Membantu Mencegah Infeksi di Seluruh Tubuh Tumbuhan
Respons hipersensitif, seperti yang ada telah pelajari, bersifat terlokalisir dan spesifik, respons pencegahan yang didasarkan pada pengenalan gen dengan gen (R dan Avr) antara inang dan patogen. Namun respon pertahanan ini juga memproduksi sinyal kimia yang “memberikan tanda bahaya” infeksi ke seluruh tumbuhan tersebut. Hormon alarm dibebaskan dari tempat infeksi dan diangkut ke seluruh tumbuhan tersebut, yang merangsang produksi fitoalexin dan protein PR. Respons ini, yang disebut resistensi-perolehan sistemik (systemic acquired resistance, SAR), bersifat nonspesifik, memberikan perlindungan terhadap berbagai ragam patogen selama beberapa hari.
Salah satu hormon yang bertanggung jawab atas pengaktifan SAR adalah asam salisilat. Bentuk termodifikasi senyawa ini, asam asetilsalisilat, adalah unsur aktif dalam aspirin. Berabad-abad sebelum aspirin dijual sebagai obat rasa sakit, beberapa masyarakat  telah mengetahui bahwa mengunyah kulit pohon willow (Salix) akan mengurangi rasa sakit gigi atau sakit kepala. Dengan penemuan resistensi-perolehan sistemik, para ahli biologi akhirnya mengetahui satu fungsi asam salisilat pada tumbuhan. Aspirin ternyata merupakan obat alamiah yang dihasilkan tumbuhan, akan tetapi dengan efek yang sama sekali berbeda dengan kerja terapetiknya pada manusia yang mengkonsumsi obat tersebut.
Para ahli botani yang meneliti resistensi dan sistem kontrol, sedang memasuki inti persoalan bagaimana suatu tumbuhan beradaptasi dengan lingkungannya. Para saintis ini, bersama-sama dengan ribuan ahli biologi tumbuhan yang bekerja pada permasalahan lain dan jutaan mahasiswa yang sedang melakukan percobaan dengan tumbuhan dalam kuliah biologi, semuanya sedang meneruskan suatu tradisi berumur berabad-abad mengenai keingintahuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi organisme yang menjadi sumber makanan bagi biosfer ini.
2.6. Jenis – Jenis Patogen Tumbuhan
Patogen penyakit biotik meliputi : Jamur,bakteri,virus,nematoda,tumbuhan tingkat tinggi parasitik,mikoplasma.Organisme yang dapat menyebabkan suatu penyakit tanaman disebut patogen tanaman. Patogen tanaman meliputi organisme-organisme sebagai berikut :
A.    Jamur
Jamur ada yang menyebut cendawan atau fungi. Jamur merupakan mikroorganisme yang organel selnya bermembran (eukariotik), tidak mempunyai klorofil, berkembangbiak secara seksual dan atau aseksual dengan membentuk spora, tubuh vegetatif (somatik) berupa sel tunggal atau berupa benang-benang halus (hifa, miselium) yang biasanya bercabang-cabang, dinding selnya terdiri dari sellulose dan atau khitin bersama-sama dengan molekul-molekul organik kompleks lainnya. Untuk keperluan praktis dalam diagnose penyebab penyakit, jamur dibedakan berdasarkan ada tidaknya sekat pada hifa dan cara perkembangbiakannya, sehingga jamur dibedakan menjadi empat kelompok kelas, yaitu : Phycomycetes, Ascomycetes, Basidiomycetes, dan Deuteromycetes.
a.       Contoh jamur Phycomycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Scleroperonospora maydis penyebab penyakit bulai pada jagung, Pythium myriotylum penyebab penyakit busuk polong kaacang tanah, Phytophthora palmivora penyebab penyakit busuk hitam pada kelapa, kelapa sawit, lada, durian, pepaya dan kanker garis batang karet, Phytophthora theobromae penyebab penyakit busuk buah kakao, Phytophthora cinnamomi penyebab penyakit kanker kayu manis, Phytophthora infestans penyebab penyakit hawar daun kentang, Phytophthora parasitica penyebab penyakit busuk batang tembakau.
b.      Contoh jamur Ascomycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Ceratocystis fimbriata penyebab penyakit kanker pada kakao, kopi, mangga, kelapa, dan karet, Elsinoe fawcetti penyebab penyakit kudis pada jeruk, Glomerella cingulata (fase seksual Colletotrichum) penyebab penyakit antraknose pada berbagai tanaman, Mycosphaerella berkeleyii dan Mycosphaerella arachidis (fase seksual Cercospora) penyebab penyakit bercak daun kacang tanah.

c.       Contoh jamur Basidiomycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Corticium salmonicolor (Upasia salmonicolor) penyebab penyakit upas pada banyak tanaman tahunan, Exobasidium vexans penyebab penyakit cacar daun teh, Hemileia vastatrix penyebab penyakit karat daun kopi, Puccinia sorghi penyebab penyakit karat sorgum, Rigidoporus lignosus (=Fomes lignosus) penyebab penyakit akar putih pada tanaman tahunan, Ustilago scitaminea penyebab penyakit gosong pada tebu.

d.      Contoh jamur Deuteromycetes yang menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Alternaria solani penyebab penyakit bercak daun kentang, Botryiodiplodia theobromae penyebab penyakit busuk pada buah kakao, kelapa, pisang, pepaya, dan ubi jalar, Cercospora coffeicola penyebab penyakit bercak mata coklat pada kopi, Cercospora purpurea penyebab penyakit bercak blotch apokat, Cercospora nicotianae penyebab penyakit bercak mata katak pada tembakau, Colletotrichum gloeosporioides penyebab penyakit antraknose pada banyak tanaman, Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu pada berbagai tanaman, Pyricularia oryzae penyebab penyakit hawar daun padi dan beberapa rerumputan.
B.  Bakteri
Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik bersel tunggal. Ada kurang lebih 200 jenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tanaman. Jenis-jenis bakteri ini terutama berbentuk batang dan hanya terdiri dari enam genus (marga), yaitu
a.       Agrobacterium dari famili Rhizobiaceae gram negatif
b.      Corynebacterium dari famili Corynebacteriaceae gram positif
c.       Erwinia dari famili Enterobacteriaceae gram negatif
d.       Pseudomonas dari famili Pseudomonadaceae gram negatif
e.       Streptomyces dari famili gram positif
f.       Xanthomonas dari famili Pseudomonadaceae gram negatif
      
a.  Agrobacterium merupakan bakteri berbentuk batang pendek, motil  (dapat bergerak), flagela peritrik, menyebabkan hipertropi yang berupa gall pada akar dan batang. Hanya ada 5 jenis dari genus Agrobacterium yang merupakan patogen tanaman, dan yang paling dikenal yaitu Agrobacterium tumefaciens yang menyebabkan penyakit crown gall atau bengkak pada pangkal batang, akar, dan ranting tanaman gandum, anggur dan mawar, Agrobacterium rhizogenes penyebab penyakit akar berambut (hairy roots), dan Agrobacterium rubi penyebab penyakit bengkak pada batang, dahan, daun dan bunga tanaman oleander.
b.  Corynebacterium merupakan bakteri berbentuk batang ramping, non-motil (ada yang motil yaitu : Corynebacterium flaccumfaciens dan C. poinseltae), kebanyakan menyebabkan layu tanaman. Genus Corynebacterium mempunyai ± 11 jenis yang bersifat patogen tanaman. Genus ini termasuk penyebab penyakit tanaman yang sampai sekarang belum pernah berarti. Contoh : Corynebacterium fasciens penyebab penyakit fasiasi pada dahan kapri, crysanthenum, Corynebacterium spedonicum penyebab penyakit layu bakteri pada kacang buncis, dan Corynebacterium michiganense penyebab penyakit layu bakteri pada tomat.
c.  Erwinia merupakan bakteri berbentuk batang, motil, flagela peritrik, penyebab kematian jaringan yang bersifat kering, juga penyebab benjolan-benjolan, layu dan busuk basah. Genus Erwinia mempunyai ± 22 jenis yang bersifat patogen tanaman dan biasanya sangat sulit dikendalikan. Contoh : Erwinia amylovora penyebab penyakit fireblight pada apel, Erwinia carotovora penyebab penyakit busuk basah pada wortel dan sayuran lain sampai tembakau, Erwinia chrysanthemi penyebab penyakit busuk lunak pada kentang, talas dan nenas, Erwinia dissolvens penyebab penyakit busuk lunak pada batang jagung.
d. Pseudomonas merupakan genus terbesar sebagai penyebab penyakit tanaman, bakteri berbentuk batang, motil dengan flagela polar, koloni membentuk pigmen berwarna kehijauan yang larut dalam air. Genus Pseudomonas meliputi hampir separuh jenis bakteri yang mampu menimbulkan penyakit tanaman. Bakteri patogen ini menyebabkan gejala yang bervariasi mulai daribercak daun, hawar, busuk daun, sampai layu. Contoh : Pseudomonas solanacearum penyebab penyakit layu pada tanaman-tanaman Solanaceae dan jahe, Pseudomonas glycinea penyebab penyakit hawar daun kedelai, Pseudomonas phaseolicola penyebab penyakit bercak halo pada buncis, Pseudomonas pseudozoogloeae penyebab penyakit karat hitam pada tembakau, Pseudomonas malvacearum penyebab penyakit bercak bersudut pada kapas.
e.  Genus bakteri patogen tanaman yang menonjol setelah Pseudomonas adalah Xanthomonas, yang mencakup hampir 60 jenis mampu menimbulkan penyakit pada tanaman. Bakteri berbentuk batang kecil, bergerak dengan satu flagela di ujung, koloni berlendir berwarna kuning. Gejala-gejala yang disebabkan oleh Xanthomonas juga bervariasi yang meliputi busuk, hawar dan bercak . Janis-jenis Xanthomonas mempunyai kekhususan terutama terbentuknya pigmen kuning pada koloninya. Contoh : Xanthomonas campestris penyebab penyakit hawar daun padi, kedelai dan busuk lunak pada talas, ubi kayu, Xanthomonas citri penyebab penyakit kanker pada jeruk, Xanthomonas malvacearum penyebab penyakit bercak bersudut pada kapas, Xanthomonas oryzae penyebab penyakit hawar daun padi.
f.   Genus Streptomyces merupakan genus bakteri patogen tanaman yang hanya mempunyai dua jenis yang mampu menyebabkan penyakit tanaman. Sifat yang menonjol dari genus ini adalah adanya hifa halus ( < 1 μm) atau bentuk seperti benang yang bercabang-cabang dengan konidia pada ujung rantai hifa. Ukuran bakteri maupun konidianya tidak berbeda yaitu sekitar 1 – 2 μm. Pada benang ini, setiap sel berfungsi sebagai satu individu tersendiri. Selain itu, Streptomyces juga biasa membentuk endospora yang tidak dijumpai pada bakteri patogen lainnya. Genus ini sama dengan Corynebacterium yang kurang berarti kecuali Streptomyces scabies penyebab penyakit kudis pada umbi kentang dan Streptomyces ipomea penyebab penyakit kutil pada umbi jalar.

C. Virus.
Virus merupakan kesatuan ultramikroskopik yang hanya mengandung satu atau dua bentuk asam nukleat yang dibungkus oleh senyawa protein kompleks. Asam nukleat dan protein disintesis oleh sel inang yang sesuai dengan memanfaatkan mekanisme sintesis dari sel-sel inang untuk menghasilkan substansi viral (asam nukleat dan protein).





              Virus dapat dipisahkan dari sel inang menjadi molekul-molekul mikroprotein dan dari keadaan murni ini virus dikatakan dalam fase pasif. Molekul mikroprotein ini benar-benar merupakan senyawa kimia, baru setelah kristal mikroprotein ini masuk ke dalam sel-sel inang yang sesuai, maka kristal mikroprotein akan kembali ke sifat-sifat menyerupai organisme, dan inilah yang disebut fase aktif. Virus tanaman yang telah dimurnikan dan telah diketahui komponen-komponen kimia penyusunnya mempunyai ciri-ciri kesamaan kimia yang sama. Virus tersusun atas sebuah mantel pelindung yang disebut kapsid dan tersusun atas protein. Bagian inti virus yang disebut nukleokapsid tersusun atas asam nukleat. Asam nukleat virus tanaman sebagian besar berbentuk RNA (ribonucleic acid), sedangkan virus hewan dan manusia sebagian besar berbentuk DNA (dioxyribonucleic acid). Akhir-ahkir ini virus telah banyak menimbulkan kerugian ekonomi terhadap hasil-hasil pertanian. Beberapa jenis virus mampu menyerang banyak macam tanaman inang tetapi ada pula yang hanya mempunyai satu tanaman inang spesifik. Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus sangat bervariasi. Ada virus yang laten tanpa menimbulkan gejala, ada virus yang dapat menimbulkan gejala ke seluruh tubuh tanaman, mulai dari tidak berat sampai sangat berat. Gejala penyakit untuk satu virus penyebab dapat bervariasi dari tiga sampai enam macam gejala yang berbeda. Gejala penyakit yang disebabkan oleh virus lebih tampak pada bagian tanaman yang baru tumbuh. Virus tumbuhan biasanya disebarkan oleh serangga vektor golongan Aphid, leaf hoppers, Trips, tungau, lalat putih atau karena pembuatan okulasi, penyambungan atau oleh adanya kontak antara tanaman sakit dengan tanaman sehat. Contoh virus penyebab penyakit tanaman yaitu : virus mosaik tembakau (tobacco mosaic virus) ditularkan oleh Aphids, virus mosaik ketikun (cucumber mosaic virus) ditularkan oleh Aphids, virus pucuk keriting (curly-top virus) ditularkan oleh leaf hopper, virus layu berbercak (spotted wilt virus) disebarkan oleh thrips.
              D. Mikoplasma dan MLO (mycoplasma like organism).
Mikoplasma juga merupakan mikroorganisme prokariotik seperti bakteri yang organel-organelnya tidak bermembran. Informasi genetiknya berupa rantai DNA yang berbentuk cincin dan terdapat bebas dalam sitoplasma. Mikoplasma tidak mempunyai dinding sel dan hanya diikat oleh unit membran berupa triple-layered, mempunyai sitoplasma, ribosom, dan substansi inti yang tersebar dalam sitoplasma. Mikoplasma dapat berbentuk ovoid sampai filamen (benang) dan kadang-kadang berbentuk menyerupai hifa bercabang-cabang dan biasanya dijumpai di dalam jaringan di luar sel-sel inang. Mikoplasma like organisme (MLO) tanaman biasanya terdapat dalam cairan floem. Berbeda dengan mikoplasma, MLO dapat tumbuh pada sitoplasma sel-sel parenkhim floem. MLO sering dijumpai membentuk koloni yang terdiri dari sel-sel tunggal yang berbentuk sperikel sampai ovoid. Contoh penyakit tanaman yang disebabkan oleh mikoplasma yaitu : citrus greening, coconuts lethal yellowing, dan sugarcane grassy shoot.
D.  Tumbuhan tingkat tinggi parasittik.
Lebih dari 2500 jenis tumbuhan tingkat tinggi dikenal hidup secara parasitik pada tanaman lain. Tumbuhan parasitik biasanya mampu menghasilkan biji dan bunga yang mirip dengan biji dan bunga yang dihasilkan tanaman inangnya. Tingkat parasitisme tumbuhan parasit ada 3 macam, yaitu : efifit, hemiparasit dan parasit benar. Tumbuhan efifit secara fisiologis tidak tergantung tanaman inang tetapi efifit sangat tergantung kepada dukungan dan perlindungan tanaman inang dari pengaruh faktor luar. Tumbuhan hemiparasit merupakan kelompok tumbuhan parasit yang tergantung kepada inangnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan air dan mineral, sedangkan tumbuhan parasit benar termasuk kelompok tumbuhan tingkat tinggi yang tidak mempunyai klorofil, sehingga untuk mencukupi kebutuhan nutriennya sangat tergantung kepada tanaman inang.




BAB III
SIMPULAN


Tidak ada komentar:

Posting Komentar