BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Tumbuhan,
seperti halnya hewan, bisa terkena infeksi akibat berbagai macam virus
patogenik, bakteri, dan fungsi yang memiliki fungsi merusak jaringan atau
bahkan membunuh tumbuhan. Patogen adalah agen biologis yang menyebabkan
penyakit pada inangnya. Sebutan lain dari patogen adalah organisme parasit.
Umumnya istilah ini diberikan untuk agen yang mengacaukan fisiologi norman
hewan atau tumbuhan multiselular. Namun patogen dapat pula menginfeksi
organisme uniseluler dari semua kerajaan biologi. Umumnya hanya organisme yang
sangat patogen yang dapat menyebabkan penyakit, sementara sisanya jarang
menimbulkan penyakit.
Keberadaan
patogen tentu akan menimbulkan kerugian dalam hal produksi dan ekonomi, dan
merugikan bagi tanaman itu sendiri. Namun disisi lain tanaman memiliki garis –
garis pertahanan untuk mencegah infeksi dan menghadapi patogen yang menginfeksi
tumbuhan. Hal tersebut berpengaruh besar terhadap daya hidup dari tumbuhan itu
sendiri disamping adanya bantuan dari manusia dalam membasmi patogen – patogen
tersebut.
BAB
II
PEMBAHASAN
Tumbuhan,
seperti halnya hewan, bisa terkena infeksi akibat berbagai macam virus
patogenik, bakteri, dan fungsi yang memiliki fungsi merusak jaringan atau
bahkan membunuh tumbuhan. Dan seperti hewan, tumbuhan memiliki sistem
pertahanan untuk mencegah infeksi dan menghadapi patogen yang menginfeksi
tumbuhan.
2.1.
Patogen Tumbuhan
Patogen merupakan agen biologis yang
menyebabkan penyakit pada inangnya. Patogen tumbuhan adalah organisme yang
menyebabkan tumbuhan “sakit dan menderita”. Sakit dan menderita diartikan
sebagai adanya perubahan fisiologis dan struktural dari suatu tumbuhan. Patogen
menyerang tumbuhan inang dengan berbagai macam guna memperoleh zat makanan yang
dibutuhkan oleh patogen yang ada pada inang. Untuk dapat masuk ke dalam inang
patogen mampu mematahkan reaksi pertahanan tumbuhan inang.
Dalam menyerang tumbuhan, patogen
mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh pada komponen tertentu
dari tumbuhan dan juga berpengaruh terhadap aktivitas metabolisme tumbuhan
inang. Beberapa cara patogen untuk dapat masuk ke dalam inang dengan cara
mekanis dan kimia.
2.2.
Sistem Pertahanan terhadap Patogen
Garis pertahanan pertama adalah
rintangan fisik “kulit” tumbuhan, yaitu epidermis tubuh tumbuhan primer dan
periderm tubuh tumbuhan sekunder. Namun demikian, sistem pertahanan pertama ini
bukan tidak dapat ditembus. Virus, bakteri, serta spora dan hifa pada fungsi
dapat memasuki tumbuhan melalui luka atau melalui suatu pembukaan alamiah pada
epidermis, seperti stomata. Sekali suatu patogen menginvasi, tumbuhan akan
mengeluarkan suatu serangan kimia sebagai garis pertahanan kedua yang membunuh
patogen dan mencegah penyebarannya dari tempat infeksi. Sistem pertahanan kedua
ini ditingkatkan oleh kemampuan tumbuhan yang diwariskan untuk menngenali
patogen tertentu.
2.3. Resistensi terhadap Penyakit
bergantung pada pengenalan antara gen tumbuhan dan patogen
Patogen dikatakan menjadi virulen
apabila suatu tumbuhan memiliki hanya sedikit pertahanan spesifik terhadapnya.
Patogen virulen merupakan pengecualian, karena jika tidak demikian, inang dan
patogen akan segera mati bersama. Suatu jenis “kompromi” telah berkembang bersama antara tumbuhan dengan
sebagian besar patogennya. Pada kasus seperti itu, patogen akan mendapatkan
cukup jalan masuk menuju inangnya, dan tetap ada pada inangnya tanpa merusak
atau membunuh tumbuhan tersebut. Tumbuhan itu dikatakan menjadi resisten
terhadap patogen khusus tersebut.
Resistensi spesifik terhadap penyakit
didasarkan pada apa yang disebut pengenalan gen dengan gen (gene-for-gene recognition), karena
memerlukan suatu kesesuaian yang tepat antara suatu adel dalam tumbuhan dengan
suatu adel pada patogen. Suatu tumbuhan memiliki banyak gen R (untuk (resistensi), dan setiap
patogen memiliki sekumpulan gen Avr
(untuk avirulen, yang berarti tidak virulen). Tumbuhan resisten terhadap suatu
patogen jika salah satu dari gen R tumbuhan merupakan alel dominan yang
berhubungan dengan alel Avr pada
patogen tersebut. Bukan gen itu sendiri yang berinteraksi, tentunya, akan
tetapi produk gen tersebut. Produk gen R
kemungkinan suatu protein reseptor spesifik di dalam sel tumbuhan atau pada
permukaannya. Gen Avr kemungkinan
memproduksi beberapa molekul “sinyal” dari patogen, yaitu suatu ligan yang
mampu berikatan secara spesifik dengan reseptor sel tumbuhan. Produk Avr diyakini memiliki beberapa fungsi
yang mana patogen tersebut bergantung padanya, tetapi tumbuhan itu mampu
“mengunci” molekul ini sebagai pengumuman terhadap kehadiran patogen tersebut.
Pengikatan ligan pada reseptornya akan memicu suatu jalur transduksi sinyal
yang menghasilkan respon pertahanan pada jaringan tumbuhan yang terinfeksi.
Pertahanan ini meliputi baik peningkatan respon pada tempat infeksi maupun
respon yang lebih pada keseluruhan tumbuhan itu.
2.4.
Respon Hipersensitif (HR) membatasi suatu infeksi
![]() |
Copyright ©Biology Campbell 8. Permission required for reproduction or display.
Gb.
1. Pertahanan melawan patogen avirulen
Keterangan:
1.
resistensi positif didasarkan pada pengikatan molekul – molekul dari patogen ke
reseptor – reseptor pada sel – sel tumbuhan
2.
identifikasi pada langkah 1 memicu suatu jalur transduksi sinyal
3. dalam suatu respons hipersesitif
sel – sel tumbuhan menghasilkan molekul – molekul antimikroba, yang menyegel
wilayah – wilayah yang terindikasi dengan memodifikasi dinding selnya, dan
kemudian menghancurkan dirinya sendiri. Respons yang terlokasi ini menghasilkan
guratan dan melindungi bagian lain dari daun yang terinfeksi
4. sebelum mati, sel – sel yang
terinfeksi melepaskan molekul persinyalan, asam metilsalisilat
5. molekul persinyalan
didistribusikan ke seluruh bagian lain dari tumbuhan.
6. pada sel – sel yang jauh dari
tempat infeksi, metilsalisilat diubah menjadi asam salisilat, yang mengawali
suatu jalur transduksi sinyal
7. resistensi sistemik yang
diperoleh teraktivasi ; produksi molekul – molekul yang membantu melindungi
seldari berbagai macam patogen selama beberapa hari
Meskipun suatu tumbuhan terinfeksi oleh
suatu galur virulen-karena tumbuhan tersebut tidak memiliki resistensi genetik
terhadap patogen virulen itu-tumbuhan itu dapat mengeluarkan serangan kimia
terlokalisir sebagai tanggapan terhadap sinyal molekuler yang dibebaskan dari
sel yang rusak akibat infeksi tersebut. Respon itu meliputi produksi senyawa
antimikroba yang disebut fitoaleksin (phytoalexin). Infeksi juga
mengakibatkan gen yang menghasilkan protein
PR (pathogenesis-related-yang
berhubungan dengan patogenesis). Beberapa protein ini adalah antimikroba,
misalnya yang menyerang molekul dalam dinding sel bakteri. Protein lain mungkin
bisa berfungsi sebagai sinyal yang menyebarkan “berita” mengenai infeksi itu ke
sel-sel tetangganya. Infeksi juga merangsang pengikatan silang molekul dalam
dinding sel dan deposisi lignin, yaitu proses yang memasang barikade lokal yang
memperlambat penyebaran patogen ke bagian lain pada tumbuhan.
Jika patogen bersifat avirulen yang
didasarkan pada kesesuaian R-Avr, respon
pertahanan terlokalisir akan lebih hebat dan disebut repons hipersensitif (hypersensitif
response, disingkat HR). Adanya peningkatan produksi fitoaleksin dan
protein PR, serta respons “penutupan” lebih efektif dalam membatasi infeksi tersebut.
Setelah sel-sel pada tempat infeksi mengeluarkan senyawa kimia pertahanannya
dan menutup daerah infeksi, sel-sel tersebut merusak dirinya sendiri. Kita
melihat suatu HR sebagai luka atau lesi pada daun atau organ terinfeksi
lainnya. Daun yang terlihat amat “sakit” itu akan bertahan hidup, dan respons
pertahanannya akan membantu melindungi bagian tumbuhan yang lain.
2.5.
Resistensi-perolehan Sistemik (SAR) Membantu Mencegah Infeksi di Seluruh Tubuh
Tumbuhan
Respons hipersensitif, seperti yang ada telah
pelajari, bersifat terlokalisir dan spesifik, respons pencegahan yang
didasarkan pada pengenalan gen dengan gen (R
dan Avr) antara inang dan
patogen. Namun respon pertahanan ini juga memproduksi sinyal kimia yang
“memberikan tanda bahaya” infeksi ke seluruh tumbuhan tersebut. Hormon alarm
dibebaskan dari tempat infeksi dan diangkut ke seluruh tumbuhan tersebut, yang
merangsang produksi fitoalexin dan protein PR. Respons ini, yang disebut resistensi-perolehan sistemik (systemic acquired resistance, SAR), bersifat nonspesifik, memberikan
perlindungan terhadap berbagai ragam patogen selama beberapa hari.
Salah satu hormon yang bertanggung jawab
atas pengaktifan SAR adalah asam salisilat. Bentuk termodifikasi senyawa ini,
asam asetilsalisilat, adalah unsur aktif dalam aspirin. Berabad-abad sebelum
aspirin dijual sebagai obat rasa sakit, beberapa masyarakat telah mengetahui bahwa mengunyah kulit pohon willow (Salix) akan mengurangi rasa sakit gigi atau sakit kepala. Dengan
penemuan resistensi-perolehan sistemik, para ahli biologi akhirnya mengetahui
satu fungsi asam salisilat pada tumbuhan. Aspirin ternyata merupakan obat
alamiah yang dihasilkan tumbuhan, akan tetapi dengan efek yang sama sekali
berbeda dengan kerja terapetiknya pada manusia yang mengkonsumsi obat tersebut.
Para
ahli botani yang meneliti resistensi dan sistem kontrol, sedang memasuki inti
persoalan bagaimana suatu tumbuhan beradaptasi dengan lingkungannya. Para
saintis ini, bersama-sama dengan ribuan ahli biologi tumbuhan yang bekerja pada
permasalahan lain dan jutaan mahasiswa yang sedang melakukan percobaan dengan
tumbuhan dalam kuliah biologi, semuanya sedang meneruskan suatu tradisi berumur
berabad-abad mengenai keingintahuan untuk mengetahui bentuk dan fungsi
organisme yang menjadi sumber makanan bagi biosfer ini.
2.6.
Jenis – Jenis Patogen Tumbuhan
Patogen
penyakit biotik meliputi : Jamur,bakteri,virus,nematoda,tumbuhan tingkat tinggi
parasitik,mikoplasma.Organisme
yang dapat menyebabkan suatu penyakit tanaman disebut patogen tanaman. Patogen
tanaman meliputi organisme-organisme sebagai berikut :
A.
Jamur
Jamur ada yang menyebut cendawan
atau fungi. Jamur merupakan mikroorganisme yang organel selnya bermembran
(eukariotik), tidak mempunyai klorofil, berkembangbiak secara seksual dan atau
aseksual dengan membentuk spora, tubuh vegetatif (somatik) berupa sel tunggal
atau berupa benang-benang halus (hifa, miselium) yang biasanya
bercabang-cabang, dinding selnya terdiri dari sellulose dan atau khitin
bersama-sama dengan molekul-molekul organik kompleks lainnya. Untuk keperluan
praktis dalam diagnose penyebab penyakit, jamur dibedakan berdasarkan ada
tidaknya sekat pada hifa dan cara perkembangbiakannya, sehingga jamur dibedakan
menjadi empat kelompok kelas, yaitu : Phycomycetes, Ascomycetes,
Basidiomycetes, dan Deuteromycetes.
a. Contoh jamur Phycomycetes yang menyebabkan
penyakit pada tanaman yaitu : Scleroperonospora maydis penyebab penyakit bulai
pada jagung, Pythium myriotylum penyebab penyakit busuk polong kaacang tanah,
Phytophthora palmivora penyebab penyakit busuk hitam pada kelapa, kelapa sawit,
lada, durian, pepaya dan kanker garis batang karet, Phytophthora theobromae
penyebab penyakit busuk buah kakao, Phytophthora cinnamomi penyebab penyakit
kanker kayu manis, Phytophthora infestans penyebab penyakit hawar daun kentang,
Phytophthora parasitica penyebab penyakit busuk batang tembakau.
b. Contoh jamur Ascomycetes yang
menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Ceratocystis fimbriata penyebab
penyakit kanker pada kakao, kopi, mangga, kelapa, dan karet, Elsinoe fawcetti
penyebab penyakit kudis pada jeruk, Glomerella cingulata (fase seksual
Colletotrichum) penyebab penyakit antraknose pada berbagai tanaman,
Mycosphaerella berkeleyii dan Mycosphaerella arachidis (fase seksual
Cercospora) penyebab penyakit bercak daun kacang tanah.
c. Contoh jamur Basidiomycetes yang
menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Corticium salmonicolor (Upasia
salmonicolor) penyebab penyakit upas pada banyak tanaman tahunan, Exobasidium
vexans penyebab penyakit cacar daun teh, Hemileia vastatrix penyebab penyakit
karat daun kopi, Puccinia sorghi penyebab penyakit karat sorgum, Rigidoporus
lignosus (=Fomes lignosus) penyebab penyakit akar putih pada tanaman tahunan,
Ustilago scitaminea penyebab penyakit gosong pada tebu.
d. Contoh jamur Deuteromycetes yang
menyebabkan penyakit pada tanaman yaitu : Alternaria solani penyebab penyakit
bercak daun kentang, Botryiodiplodia theobromae penyebab penyakit busuk pada
buah kakao, kelapa, pisang, pepaya, dan ubi jalar, Cercospora coffeicola
penyebab penyakit bercak mata coklat pada kopi, Cercospora purpurea penyebab
penyakit bercak blotch apokat, Cercospora nicotianae penyebab penyakit bercak
mata katak pada tembakau, Colletotrichum gloeosporioides penyebab penyakit
antraknose pada banyak tanaman, Fusarium oxysporum penyebab penyakit layu pada
berbagai tanaman, Pyricularia oryzae penyebab penyakit hawar daun padi dan
beberapa rerumputan.
B. Bakteri
Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik bersel tunggal.
Ada kurang lebih 200 jenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tanaman.
Jenis-jenis bakteri ini terutama berbentuk batang dan hanya terdiri dari enam
genus (marga), yaitu
a.
Agrobacterium dari famili Rhizobiaceae gram negatif
b.
Corynebacterium dari famili Corynebacteriaceae gram positif
c.
Erwinia dari famili Enterobacteriaceae gram negatif
d.
Pseudomonas dari
famili Pseudomonadaceae gram negatif
e.
Streptomyces dari famili gram positif
f.
Xanthomonas dari famili Pseudomonadaceae gram negatif
a. Agrobacterium merupakan bakteri
berbentuk batang pendek, motil (dapat
bergerak), flagela peritrik, menyebabkan hipertropi yang berupa gall pada akar
dan batang. Hanya ada 5 jenis dari genus Agrobacterium yang merupakan patogen
tanaman, dan yang paling dikenal yaitu Agrobacterium tumefaciens yang
menyebabkan penyakit crown gall atau bengkak pada pangkal batang, akar, dan
ranting tanaman gandum, anggur dan mawar, Agrobacterium rhizogenes penyebab
penyakit akar berambut (hairy roots), dan Agrobacterium rubi penyebab penyakit
bengkak pada batang, dahan, daun dan bunga tanaman oleander.
b. Corynebacterium merupakan bakteri
berbentuk batang ramping, non-motil (ada yang motil yaitu : Corynebacterium
flaccumfaciens dan C. poinseltae), kebanyakan menyebabkan layu tanaman. Genus
Corynebacterium mempunyai ± 11 jenis yang bersifat patogen tanaman. Genus ini
termasuk penyebab penyakit tanaman yang sampai sekarang belum pernah berarti.
Contoh : Corynebacterium fasciens penyebab penyakit fasiasi pada dahan kapri,
crysanthenum, Corynebacterium spedonicum penyebab penyakit layu bakteri pada
kacang buncis, dan Corynebacterium michiganense penyebab penyakit layu bakteri
pada tomat.
c. Erwinia merupakan bakteri berbentuk
batang, motil, flagela peritrik, penyebab kematian jaringan yang bersifat
kering, juga penyebab benjolan-benjolan, layu dan busuk basah. Genus Erwinia
mempunyai ± 22 jenis yang bersifat patogen tanaman dan biasanya sangat sulit
dikendalikan. Contoh : Erwinia amylovora penyebab penyakit fireblight pada
apel, Erwinia carotovora penyebab penyakit busuk basah pada wortel dan sayuran
lain sampai tembakau, Erwinia chrysanthemi penyebab penyakit busuk lunak pada
kentang, talas dan nenas, Erwinia dissolvens penyebab penyakit busuk lunak pada
batang jagung.
d. Pseudomonas merupakan genus terbesar
sebagai penyebab penyakit tanaman, bakteri berbentuk batang, motil dengan
flagela polar, koloni membentuk pigmen berwarna kehijauan yang larut dalam air.
Genus Pseudomonas meliputi hampir separuh jenis bakteri yang mampu menimbulkan
penyakit tanaman. Bakteri patogen ini menyebabkan gejala yang bervariasi mulai
daribercak daun, hawar, busuk daun, sampai layu. Contoh : Pseudomonas
solanacearum penyebab penyakit layu pada tanaman-tanaman Solanaceae dan jahe,
Pseudomonas glycinea penyebab penyakit hawar daun kedelai, Pseudomonas
phaseolicola penyebab penyakit bercak halo pada buncis, Pseudomonas
pseudozoogloeae penyebab penyakit karat hitam pada tembakau, Pseudomonas
malvacearum penyebab penyakit bercak bersudut pada kapas.
e. Genus bakteri patogen tanaman yang
menonjol setelah Pseudomonas adalah Xanthomonas, yang mencakup hampir 60 jenis
mampu menimbulkan penyakit pada tanaman. Bakteri berbentuk batang kecil,
bergerak dengan satu flagela di ujung, koloni berlendir berwarna kuning.
Gejala-gejala yang disebabkan oleh Xanthomonas juga bervariasi yang meliputi
busuk, hawar dan bercak . Janis-jenis Xanthomonas mempunyai kekhususan terutama
terbentuknya pigmen kuning pada koloninya. Contoh : Xanthomonas campestris
penyebab penyakit hawar daun padi, kedelai dan busuk lunak pada talas, ubi
kayu, Xanthomonas citri penyebab penyakit kanker pada jeruk, Xanthomonas
malvacearum penyebab penyakit bercak bersudut pada kapas, Xanthomonas oryzae
penyebab penyakit hawar daun padi.
f.
Genus Streptomyces merupakan genus bakteri patogen tanaman
yang hanya mempunyai dua jenis yang mampu menyebabkan penyakit tanaman. Sifat
yang menonjol dari genus ini adalah adanya hifa halus ( < 1 μm) atau bentuk
seperti benang yang bercabang-cabang dengan konidia pada ujung rantai hifa.
Ukuran bakteri maupun konidianya tidak berbeda yaitu sekitar 1 – 2 μm. Pada
benang ini, setiap sel berfungsi sebagai satu individu tersendiri. Selain itu,
Streptomyces juga biasa membentuk endospora yang tidak dijumpai pada bakteri
patogen lainnya. Genus ini sama dengan Corynebacterium yang kurang berarti
kecuali Streptomyces scabies penyebab penyakit kudis pada umbi kentang dan
Streptomyces ipomea penyebab penyakit kutil pada umbi jalar.
Genus Streptomyces merupakan genus bakteri patogen tanaman
yang hanya mempunyai dua jenis yang mampu menyebabkan penyakit tanaman. Sifat
yang menonjol dari genus ini adalah adanya hifa halus ( < 1 μm) atau bentuk
seperti benang yang bercabang-cabang dengan konidia pada ujung rantai hifa.
Ukuran bakteri maupun konidianya tidak berbeda yaitu sekitar 1 – 2 μm. Pada
benang ini, setiap sel berfungsi sebagai satu individu tersendiri. Selain itu,
Streptomyces juga biasa membentuk endospora yang tidak dijumpai pada bakteri
patogen lainnya. Genus ini sama dengan Corynebacterium yang kurang berarti
kecuali Streptomyces scabies penyebab penyakit kudis pada umbi kentang dan
Streptomyces ipomea penyebab penyakit kutil pada umbi jalar.
C. Virus.
Virus merupakan kesatuan ultramikroskopik yang hanya
mengandung satu atau dua bentuk asam nukleat yang dibungkus oleh senyawa
protein kompleks. Asam nukleat dan protein disintesis oleh sel inang yang
sesuai dengan memanfaatkan mekanisme sintesis dari sel-sel inang untuk
menghasilkan substansi viral (asam nukleat dan protein).
Virus dapat dipisahkan dari sel
inang menjadi molekul-molekul mikroprotein dan dari keadaan murni ini virus
dikatakan dalam fase pasif. Molekul mikroprotein ini benar-benar merupakan
senyawa kimia, baru setelah kristal mikroprotein ini masuk ke dalam sel-sel
inang yang sesuai, maka kristal mikroprotein akan kembali ke sifat-sifat
menyerupai organisme, dan inilah yang disebut fase aktif. Virus tanaman yang
telah dimurnikan dan telah diketahui komponen-komponen kimia penyusunnya
mempunyai ciri-ciri kesamaan kimia yang sama. Virus tersusun atas sebuah mantel
pelindung yang disebut kapsid dan tersusun atas protein. Bagian inti virus yang
disebut nukleokapsid tersusun atas asam nukleat. Asam nukleat virus tanaman
sebagian besar berbentuk RNA (ribonucleic acid), sedangkan virus hewan dan
manusia sebagian besar berbentuk DNA (dioxyribonucleic acid). Akhir-ahkir ini
virus telah banyak menimbulkan kerugian ekonomi terhadap hasil-hasil pertanian.
Beberapa jenis virus mampu menyerang banyak macam tanaman inang tetapi ada pula
yang hanya mempunyai satu tanaman inang spesifik. Gejala penyakit yang
disebabkan oleh virus sangat bervariasi. Ada virus yang laten tanpa menimbulkan
gejala, ada virus yang dapat menimbulkan gejala ke seluruh tubuh tanaman, mulai
dari tidak berat sampai sangat berat. Gejala penyakit untuk satu virus penyebab
dapat bervariasi dari tiga sampai enam macam gejala yang berbeda. Gejala
penyakit yang disebabkan oleh virus lebih tampak pada bagian tanaman yang baru
tumbuh. Virus tumbuhan biasanya disebarkan oleh serangga vektor golongan Aphid,
leaf hoppers, Trips, tungau, lalat putih atau karena pembuatan okulasi,
penyambungan atau oleh adanya kontak antara tanaman sakit dengan tanaman sehat.
Contoh virus penyebab penyakit tanaman yaitu : virus mosaik tembakau (tobacco
mosaic virus) ditularkan oleh Aphids, virus mosaik ketikun (cucumber mosaic
virus) ditularkan oleh Aphids, virus pucuk keriting (curly-top virus)
ditularkan oleh leaf hopper, virus layu berbercak (spotted wilt virus)
disebarkan oleh thrips.
D. Mikoplasma dan MLO (mycoplasma
like organism).
Mikoplasma juga merupakan
mikroorganisme prokariotik seperti bakteri yang organel-organelnya tidak
bermembran. Informasi genetiknya berupa rantai DNA yang berbentuk cincin dan
terdapat bebas dalam sitoplasma. Mikoplasma tidak mempunyai dinding sel dan
hanya diikat oleh unit membran berupa triple-layered, mempunyai sitoplasma,
ribosom, dan substansi inti yang tersebar dalam sitoplasma. Mikoplasma dapat
berbentuk ovoid sampai filamen (benang) dan kadang-kadang berbentuk menyerupai
hifa bercabang-cabang dan biasanya dijumpai di dalam jaringan di luar sel-sel
inang. Mikoplasma like organisme (MLO) tanaman biasanya terdapat dalam cairan
floem. Berbeda dengan mikoplasma, MLO dapat tumbuh pada sitoplasma sel-sel parenkhim
floem. MLO sering dijumpai membentuk koloni yang terdiri dari sel-sel tunggal
yang berbentuk sperikel sampai ovoid. Contoh penyakit tanaman yang disebabkan
oleh mikoplasma yaitu : citrus greening, coconuts lethal yellowing, dan
sugarcane grassy shoot.
D.
Tumbuhan tingkat tinggi parasittik.
Lebih
dari 2500 jenis tumbuhan tingkat tinggi dikenal hidup secara parasitik pada
tanaman lain. Tumbuhan parasitik biasanya mampu menghasilkan biji dan bunga
yang mirip dengan biji dan bunga yang dihasilkan tanaman inangnya. Tingkat
parasitisme tumbuhan parasit ada 3 macam, yaitu : efifit, hemiparasit dan
parasit benar. Tumbuhan efifit secara fisiologis tidak tergantung tanaman inang
tetapi efifit sangat tergantung kepada dukungan dan perlindungan tanaman inang
dari pengaruh faktor luar. Tumbuhan hemiparasit merupakan kelompok tumbuhan
parasit yang tergantung kepada inangnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan air
dan mineral, sedangkan tumbuhan parasit benar termasuk kelompok tumbuhan
tingkat tinggi yang tidak mempunyai klorofil, sehingga untuk mencukupi kebutuhan
nutriennya sangat tergantung kepada tanaman inang.
BAB
III
SIMPULAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar