BAB
I
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Kelainan Pada Seksual Pria
Kelenjar prosfat
dan kelainannya
Kelenjar prostat secara relative
tetap kecil sepanjang masa kanak-kanak dan mulai tumbuh pada masa pubertas
akibat rangsangan testosterone. Kelenjar ini mencapai ukuran hampir tetap pada
usia 20 tahun dan tetap pada ukuran ini sampai sampai berusia kira-kira 50
tahun. Pada waktu tersebut, beberapa pria kelenjarnya mulai berinvolusi,
bersamaan dengan pengurangan pembentukan testosterone oleh testis.
Fibroadenoma prostat jinak sering
terbentuk di prostat pada banyak pria yang sudah tua dan dapat menyebabkan
penyumbatan urin.hipertrofi tersebut tidak di sebabkan oleh testosterone namun
di sebabkan oleh pertumbuhan abnormal jaringan prostat itu sendiri yang
berlebihan.
Kanker kelenjar prostat merupakan
masalah lain dan sering menjadi penyebab kematian yang umum, dan bertanggung
jawab atas 2 sampai 3 persen dari seluruh kematian pria. Begitu kanker kelenjar
prostat terjadi, lebih cepat lagi oleh testosterone dan di hambat dengan
pengangkatan testis, sehingga testosterone tidak dapat di bentuk. Kanker
prostat biasanya dapat dihambat dengan pemberian estrogen. Bahkan beberapa
pasien yang mengalami kanker prostat yang telah bermetastasis kehampir semua
tulang tubuh berhasil di obati dengan sukses selama beberapa bulan samapai
beberapa tahun dengan pengangkatan testis, dengan terapi estrogeni, atau
keduanya ; setelah pengobatan ini, ukuran metattasis biasanya berkurang dan
tulang pulih sebagian. Pengobatan ini tidak benar-benar menghentikan kanker
tetapi dapat memperlambat pertumbuhannya dan sering kali sangat mengurangi rasa
nyeri pada tulang.
Hipogonadisme
pada pria
Saat testis fetus pria tidak
berfungsi, yaitu selama masa janin, tidak akan ada karakteristik kelamin pria
yang akan berkembang. Bahkan organ-organ wanitalah yang akan terbentuk. Alas an
untuk keadaan ini adalah bahwa karakteristik genetic dasar dari janin, baik
pria maupun wanita adalah pembentukan organ kelamin wanita bila tidak terdapat
hormone-hormon kelamin. Tetapi dengan adanya testosterone, pembentukan organ
kelamin wanita akan ditakan, dan organ-organ pria dirangsang.
Bila seorang anak laki-laki
kehilangan testisnya sebelum pubertas terjadi suatu keadaan eunuchism, yang menyebabkan si anak
tetap memiliki ciri organ seksual infantile lainnya sepanjang kehidupannya.
Tinggi badannya pada saat dewasa sedikit lebih besar dari pada pria normal,
walaupun tulang-tulangnya lebih kecil, otot-ototnya lebih lemah dari pada pria
normal. Suatanya seperti suara anak-anak, tidak terjadi kerontokan rambut
kepala, dan tidak terjadi penyebaran pertumbuhan rambut normal pada wajah dan
tempat lain.
Bila pria di kastrasi setelah
pubertas, beberapa cirri seksual sekunder kembali ke ciri seksual yang terdapat
pada anak-anak, dan sifat maskulin lainnya masih tetap terdapat. Organ-organ
seksual sedikit berkurang ukurannya tetapi tidak kembali pada ukuran pada masa
kanak-kanak, dan kualitas suara basnya sedikit berkurang. Sebaliknya, terjadi
kehilangan pertumbuhan rambut yang menandakan maskulinisasi, kehilangan tulang
maskulin yang tebal, dan kehilangan otot pria sejati.
Pada pria dewasa yang di kastrasi,
gairah seksual juga turun tetapi tidak hilang sama sekali, jika aktifitas
seksual telah di lakukan sebelumnya. Ereksi masih dapat terjadi seperti
sebelumnya, walaupun sedikit lebih sukar, tetapi sangat jarang terjadi
ejakulasi, secara primer karena organ yang membentuk semen berdegenerasi, dan
hilangnya gairah psikis yang di dorong oleh testosterone.
Beberapa kasus hipogonadisme di
sebabkan oleh ketidak mampuan genetic hipotalamus untuk menyekresi GnRH dalam jumlah yang normal. Hal ini sering
terjadi bersamaan dengan suatu kelainan yang terjadi di pusat makan hipotalamus,
yang menyebabkan orang tersebut makan berlebihan. Akibtatnya, terjadi obesitas
yang sejalan dengan eunuchism.
Tumor
testis dan hipergonadisme pada pria
Tumor
sel interstisial leydig jarang berkembang pada testis, tetapi bila hal
terrsebut terjadi, tumor tersebut terkadang membentuk testosterone 100 kali
lebih banyak dari jumlah normal. Bila tumor seperti itu berkembang pada masa
kanak-kanak, tumor tersebut akan menyebabkan pertumbuhan otot dan tulang yang
cepat tetapi juga menyebabkan penyatuan epifisis yang dini, sehingga tinggi
badan akhir dewasa sebenarnya kurang dari tinggi badan yang akan di capai pada
keadaan lain. Tumor sel interstisial juga menuyebabkan perkembangan organ
kelamin pria yang berlebihan pada pria, semua otot rangka, dan karakteristik
kelamin pria lainnya. Pada pria dewasa, tumor sel interstisial yang kecil sulit
untuk di diagnosis karena gambaran maskulin sudah di temukan.
Yang lebih umum dari tumor sel-sel
interstisial leydig adalah tumor epitel germinal. Karena sel-sel germinal mampu
berdiferensiasi menjadi hampir setiap tipe sel, banyak dari tumor tersebut yang
mengandung beraneka-ragam jaringan, seperti jaringan plasenta, rambut, gigi,
tulang, kulit, dan sebagainya, dan semuanya di temukan dalam masa tumor yang
sama yang di sebut teratoma. Tumor
ini sering kali menyekresikan sedikit hormone , tetapi bila sejumlah jaringan
plasenta berkembang di dalam tumor, tumor tersebut dapat menyekresi sejumlah
besar Hcg dengan fungsi yang mirip dengan fungsi LH. Hormone estrogenic juga
kadang-kadang di sekresi oleh tumor tersebut dan menyebabkan suatu keadaan yang
di sebut ginekomastia (pertumbuhan
payudara yang berlebihan).
2.2.Kelainan
Sekresi Ovarium
Hipogonadisme
Jumlah sekresi ovarium yang kurang
dari normal dapat terjadi karena ovarium yang terbentuk kurang sempurna, tidak
terbentuk ovarium, atau abnormalitas ovarium secara genetic yang menyekresi
hormone-hormon yang keliru karena tidak adanya enzim di dalam sel-sel
sekretoriknya. Jika sejak lahir tidak ada ovarium atau menjadi tidak berfungsi
sebelum pubertas, akan terjadi eunukisme
wanita. Pada kondisi ini, karakteristik seksual sekunder yang biasa tidak
muncul, dan organ seksual akan tetap infantile. Tanda khusus dari kondisi ini
adalah pertumbuhan tulang panjang yang lebih lama karena epifitis tidak bergabung
dengan batang tulang pada saat seperti yang terjadi pada wanita remaja normal.
Akibatnya, wanita eunuch pada dasarnya sama tinggi atau lebih tinggi dari
pasangan pria yang mempunyai latar belakjang genetic yang sama.
Apabila ovarium dari seorang wanita
yang sudah berkambang sempurna di angkat, organ-organ kelamin beregresi sampai
batas tertentu sehingga uterus menjadi hampir infantile ukurannya, vagina
menjadi lebih kecil, dan epithelium vagina menjadi lebih tipis dan mudah rusak.
Payudara menjadi atrofi dan menjadi menggantung, dan rambut pubis menjadi lebih
tipis. Perubahan semacam itu juga terjadi pada wanita sesudah menopause.
Menstruasi
yang tidak teratur, dan desminore hipogonadisme akibat
Seperti di sebutkan pada pembicaraan
terdahulu mengenai menopause, jumlah estrogen yang di produksi ovarium harus
meningkat di atas nilai kritis agar dapat menciptakan siklus seksual yang
tirmis. Akibatnya, pada hipogonadisme atau apabila gonad menyekresi sejumlah
kecil estrogen akibat factor-faktor lain, seperti hipotiroidisme, siklus ovarium sering tidak berlangsung normal.
Sebaliknya, menstruasi mungkin tidak datang beberapa bulan, atau menstruasi
berhenti sama sekali (amenore). Siklus ovarium yang memanjang, yang berhubungan
dengan kegagalan ovulasi, mungkin di sebabkan oleh insufisiensi sekresi LH pada
waktu lonjakan LH praovulasi, yang di perlukan untuk ovulasi.
Hipersekresi
ovarium
Hipersekresi hormone ovarium yang
ekstrem oleh ovarium adalah suatu keadaan klinis yang langka, karena sekresi
estrogen yang berlebihan secara otomatis akan menurunkan produksi gonadotropin
oleh hipofisis, dan membatasi produksi hormone-hormone ovarium. Akibatnya,
hipersekresi hormone-hormone wanita biasanya hanya terdeteksi secara klinis
apabila tumor sudah berkembang.
Tumor
sel granulose yang jarang dapat berkembang dalam sebuah ovarium, terjadi
lebih sering sesudah menopause dari pada sebelumnya. Tumor-tumor ini menyekresi
sejumlah besar estrogen, yang member efek estrogenic yang biasa, termasuk
hipertrofi endomertium uterus dan pendarahan yang tidak teratur dari
endometrium. Pada kenyataannya, pendarahan sering merupakan petunjuk pertama
dan satu-satunya petunjuk keberadaan tumor tersebut.
2.3.Kondisi
Abnormal Yang Menyebabkan Infertilitas pada Wanita
Sekitar 5 sampai 10 persen wanita
mengalami infertilisasi. Kadang-kadang, tidak di temukan adanya kelainan pada
organ genital wanita, sehingga pada kasus tersebut aharus dianggap bahwa
ketidak suburan tersebut di sebabkan baik karena fungsi fisiologis yang
abnormal dari system genitalia maupun karena perkembangan genrtik yang abnormal
dari ovum itu sendiri.
Mungkin sejauh ini penyebab
sterelitas wanita yang paling umum adalah kegagalan berovulasi. Keadaan ini
dapat terjadi akibat hiposekresi hormone-hormone gonadotropin, yang pada kasus
ini intensitas rangsang hormonal tidak cukup untuk menimbulkan ovulasi ; atau
dapat di akibatkan kelainan ovarium yang tidak memungkinkan terjadinya ovulasi.
Sebagai contoh, kapsul ovarium yang tebal kadang-kadang terbentuk di bagian
luar ovarium, sehingga membuat ovulasi menjadi sulit.
Karena insiden anovulasi yang tinggi
pada wanita steril, metode-metode khusus sering di gunakan untuk menantukan
apakah ovulasi dapat terjadi. Metode-metode ini terutama berdasarkan pada efek
progesterone terhadap tubuh, karena kenaiakan sekresi progesterone yang normal
tidak terjadi selama paruh siklus anovulasi yang terakhir.
Salah satu dari tes ini hanya
menganalisis urin untuk melihat adanya lonjakan pregnanediol, suatu produk
akhir dari metabolisme progesterone selama paruh siklus seksual yang terakhir,
kurangnya kadar zat ini menunjukan adanya kegagalan ovulasi. Suatu tes lain yang
di gunakan adalah meminta wanita tersebut mencacat suhu tubuhnya di sepanjang
siklus bulanan. Sekresi progesterone selama paruh dari siklus akan meningkatkan
suhu tubuh sekitar 0,5 º F, dengan kenaikan suhu yang akan berlangsung mendadak
pada saat ovulasi.
Tidak adanya ovulasi yang di
sebabkan hiposekresi hormone-hormone gonadotropin hipofisis kadang-kadang dapat
di obati dengan pemberian karionik
gonadotropin manusia yang tepat waktu, suatu hormone yang di ekstraksi dari
plasenta manusia. Hormone ini, walaupin di sekresi oleh plasenta, mempunyai
efek yang hampir sama dengan LH dan, oleh karena itu, merupakan perangsang
ovulasi yang kuat. Akan tetapi, pemakaian hormone ini dalam jumlah berlebihan
akan menyebabkan terjadinya ovulasi dari beberapa folikel secara bersamaan; hal
ini menyebabkan terjadinya kelahiran multiple, suatu efek yang dapat
menyebabkan seorang ibu yang di rawat untuk keadaan infertilitas dengan hormone
ini, melahirkan delapan orang bayi (kebanyakan lahir mati).
Salah satu penyebab sterilitas
wanita adalah endometriosis, suatu
kondisi yang umum ketika jaringan endometrium yang hampir mirip dengan jaringan
endometrium uterus normal tubuh bahkan bermenstruasi dalam rongga pelvis di
sekeliling uterus, tuba falopii, dan ovarium. Endometriosis menyebabkan
fibrosis di seluruh pelvis; dan fibrosis ini kadang-kadang sangat menyempitkan
ovarium sehingga ovum tidak dapat di lepaskan kedalam kavum abdominis. Sering
kali, endometriosis ini menyumbat tuba fallopii, baik pada ujung fimbria maupun
di tempat lain di sepanjang perluasannya.
Suatu penyebab lain yang juga sering
di temukan dari seorang wanita yang tidak subur adalah salpingitis, yaitu radang
tuba fallopii ; keadaan ini menyebabkan terjadinya fibrosis dalam tuba,
sehingga menyumbat tuba tersebut. Pada masa lalu, peradangan seperti itu
terutama terjadi akibat infeksi gonokokus, tetapi dengan mutakhir, keadaan ini
sudah makin jarang di temukan sebagai penyebab infertilitas wanita.
Akhirnya, penyebab lain dari
infertilitas adalah sekresi mucus yang abnormal dari serviks uterus. Biasanya,
pada saat ovulasi, lingkungan hormonal dari estrogen menyebabkan terjadinya
sekresi mucus dengan karakteristik khusus yang memungkinkan pergerakan sperma
yang sangat cepat kedalam uterus dan yang sebenarnya menuntun sperma di
sepanjang “benang-benang” mucus. Kelainan dari serviks sendiri, seperti infeksi
atau peradangan ringan tingkat rendah, atau rangsangan hormonal yang abnormal
dari serviks, dapat menyebabkan sumbatan mucus kental yang mencegah pembuahan.
2.4.Masalah
endokrin
Biasanya, system sitem endokrin bayi
sangat berkembang pada saat lahir, dan bayi jarang dengan cepat memperlihatkan
kelaianan endokrin. Akan tetapi terdapat beberapa keadaan khusus pada system
endokrinologi bayi yang bersifat penting:
1) Bila
seorang ibu yang mengandung seorang anak wanita di obati dengan suatu hormone
endrogenik atau bila timbul suatu tumor androgenic selama kehamilan, anak akan
lahir dengan derajat maskulinasi yang lebih tinggi pada organ seksualnya,
sehingga menunjukan suatu jenis hermafroditisme.
2) Hormone
seksual yang disekresi oleh plasenta dan oleh kelenjar ibu selama kehamilan
kadang-kadang menyebabkan payudara neonatus membentuk air susu selama hari-hati
pertama kehidupan. Sering kali payudara kemudian mengalami inflamasi atau
berkembang menjadi mastitis infeksiosa.
3) Bayi
yang lahir dari ibu pasien diabetes yang tidak di obati akan mengalami
hipertropi atau hiperfungsi sel-sel langerhans pada pancreas. Sebagai akibatnya
konsentrasi glukosa darah bayi mungkin turun sampai lebih rendah dari 20 mg/dl
segera setelah lahir. Namun demikian, untungnya pada neonatus, tidak seperti
orang dewasa, jarang mengalami syok insulin atau koma karena konsentrasi
glukosa darah yang rendah ini.
Diabetes
tipe II maternal merupakan penyenab paling sering terjadinya bayi besar.
Diabetes tipe II pada ibu di hubungkan dengan resistensi efek metabolic insulin
dan peningkatan kompensasi pada konsentrasi insulin plasma. Kadar insulin yang
tinggi di yakini merangsang factor pertumbuhan fetus dan menunjang peningkatan
berat badan lahir. Peningkatan suplai glukosa dan zat gizi lain k eke fetus
juga menunjang peningkatan pertumbuhan fetus. Namun, kebanyakan terjadinya
peningkatan berat fetus adalah akibat dari peningkatan lemak tubuh ; biasanya
hanya terdapat sedikit peningkatan panjang badan waktu ukuran beberapa organ
mungkin bertambah (organomegali).
Pada
ibu diabetes tipe I tidak terkontrol (akibat kekurangan sekresi insulin),
pertumbuhan fetus dapat terhambat karena kurangnya metabolism pada ibu, dan
pertumbuhan dan maturasi jaringan neonatus sering kali terganggu. Selain itu,
terdapat angka mortalitas intrauterine yang tinggi, dan di antara fetus yang
aterm, masih di temukan angka kematian tinggi. Dua pertiga dari seliruh bayi
akan meningal karena sindrom gawat napas.
4) Kadang
anak lahir dengan hipofungsi korteks adrenal, yang sering kali timbul akibat agenesis kelenjar adrenal atau exhaustion atrophy, yang dapat terjadi
bila kelenjar adrenal mengalami rangsangan yang berlebihan.
5) Bila
seorang ibu hamil mengalami hipertiroidisme atau di obati dengan hormone teroid
secara berlebihan, bayi cenderung lahir dengan hiposekresi kelenjar tiroid yang
temporer. Sebaliknya jika sebelum kehamilan, ibu mengalami operasi pengangkatan
kelenjar tiroid, kelenjar hipofisis ibu mungkin menyekresi sejumlah besar
tirotropin selama masa gestasi, dan anak mungkin akan lahir dengan
hipertiroidisme temporer.
6) Bayi
yang kekurangan sekresi hormone tiroid, pertumbuhan tulangnya sangat buruk dan
terdapat retardasi mental. Keadaan ini menyebabkan kondisi yang di sebut dwarfisme kretin.
2.5.
Masalah – Masalah Khusus Prematuritas
Semua masalah yang terdapat pada
neonatus terjadi lebih buruk pada bayi premature. Masalah-masalah tersebut
dapat di golongkan kedalam dua kategori berikut : (1) imaturitas beberapa organ
tertentu, dan (2) instabilitas system pengaturan hemostatik yang berbeda.
Karena efek-efek ini, bayi premature jarang dapat hidup bila bayi tersebut
lahir lebih dari 3 bulan sebelum aterm.
Perkembangan
imatur bayi premature
Hampir
semua system organ tubuh bayi premature adalah imatur, tetapi di butuhkan
beberapa perhatian khusus bila kehidupan bayi yang lahir premature ingin di
selamatkan.
Pernapasan
Sistem pernapasan pada dasarnya
cenderung kurang berkembang pada bayi premature. Kapasitas residual fungsional
paru pada dasarnya kecil, berkaitan dengan ukuran bayi. Selain itu, sekresi
surfaktan di tekan atau bahkan tidak ada. Sebagai akibatnya, sindrom gawat napas sering merupakan
penyebab umum kematian. Selain itu, rendahnya kapasitas residual fungsional
pada bayi premature sering berhubungan dengan pernapasan periodic jenis
cheynestokes.
Fungsi gastrointestinal
Masalah besar lainnya pada bayi
adalah percernaan dan absorpsi makanan yang adekuat. Bila preamaturitas bayi
lebih dari dua bulan, sitem pencernaan dan absorpsi hampir selalu anadekuat.
Absorpsi lemak juga sangat buruk sehingga bayi premature harus menjalani diet
rendah lemak. Lebih jauh lagi, bayi premature memiliki kesulitan dalam absorpsi
kalsium yang tidak lazim dan, oleh karena itu, dapat mengalami rakhitis yang
berat sebelum masalah tersebut di kenali. Karena alasan ini, perhatian khusus
harus di berikan terhadap asupan kalsium dan vitamin D yang adekuat.
Fungsi organ-organ lain
Imaturitas system organ lain yang
sering mrnyebabkan kesulitan yang berat pada bayi premature meliputi :
1) Imaturitas
hati, yang menyebabkan metabolism intermedia yang buruk dan juga cenderung
sering mengalami pendarahan sebagai akibat pembentukan factor-faktor koaulasi
yang buruk.
2) Imaturitas
ginjal, terutama kurang mampu untuk menghilangkan asam dari tubuh, dengan
demikian merupakan predisposisi terhadap asidosis juga kelainan keseimbangan
cairan yang berat.
3) Imaturitas
mekanisme pembentukan darah pada sumsum tulang, menyebabkan perkembangan anemia
dengan cepat.
4) Penekanan
pembentukan gamma globulin oleh system limpoid, yang sering berhubungan
dengan infeksi yang berat.
Instabilitas
system pengaturan homeostatis pada bayi premature
Imaturitas berbagai system organ
yang berbeda pada bayi premature menciptakan derajat instabilitas yang tinggi
dalam mekanisme homeostatic tubuh. Sebagai contoh, keseimbangan asam basa dapat
sangat bervariasi, terutama saat kecepatan asupan makanan bervariasi dari waktu
ke waktu. Demikian juga konsentrasi protein darah biasanya rendah karena
perkembangan ini yang imatur, sering mengarah pada adema hipoproteinemia. Dan ketidak mampuan bayi mengatur
konsentrasi ion kalsiumnya sering kali menyebabkan tetani hipokalsemia. Selain
itu, konsentrasi glukosa darah dapat bervariasi dalam batasan yang sangat luas
antara 20 sampai lebih dari 100 mg/dl, yang pada prinsipnya bergantung pada
keteraturan makan. Bukan suatu hal yang mustahil, bahwa pada bayi premature
dengan variasi lingkungan internal yang sangat ekstrem ini, angka mortalitasnya
tinggi.
Instabilitas
suhu tubuh
Salah satu masalah khusus pada bayi
premature adalah ketidak mampuan untuk mempertahankan suhu tubuh yang normal.
Suhu tubuhnya cenderung mendekati suhu lingkungan. Pada suhu kamar yang normal,
suhu tubuh bayi dapat stabil serendan 90º atau bahkan 80º F. Penelitian
statistic menunjukan bahwa suhu tubuh yang di pertahankan di bawah 96ºF
(35,5ºC) terkait secara khusus dengan tingginya insiden kematian, yang
menjelaskan pentingnya pengaruh incubator pada tatalaksana prematuritas.
Bahaya
kebutaan yang di sebabkan oleh retapi oksigen berlebihan pada bayi premature
Karena bayi premature sering
mengalami gawat napas, terapi oksigen telah sering di gunakan untuk mengobati
prematuritas. Akan tetapi, telah di temukan bahwa penggunaan oksigen berlebihan
pada pengobatan bayi premature dapat mengarah pada kebutaan. Alasannya bahwa
terlalu banyak oksigen akan menghentikan pertumbuhan pembuluh darah baru di
dalam retina. Kemudian saat terapi oksigen di hentikan, pembuluh darah mencoba
menggantikan waktu yang hilang dan di sambut dengan pertumbuhan pembuluh darah
di seluruh humor vitreus, sehingga menghambat jalannnya cahaya dari pupil ke
retina. Keadaan ini masih di ikuti dengan di gantikannya pembuluh darah dengan
suatu massa jaringan fibrosa, yang seharusnya di gantikan oleh humor vitreus
mata yang bening.
Keadaan ini, di kenal sebagai fibroplasia retrolental, yang
menyebabkan kebutuhan permanen. Karena alasan ini, secara khusus sangat penting
untuk menghindari pengobatan bayi premature dengan oksigen pernapasan dalam
konsentrasi yang tinggi. Penelitian fisiologi menunjukan bahwa bayi premature
biasanya dapat bertahan sampai oksigen 40 persen pada udara yang di hirupnya,
tetapi beberapa ahli fisiologi anak yakin bahwa keselamatan sempurna hanya
dapat dicapai dengan konsentrasi oksigen yang normal pada udara yang di
hirup.
2.6.
Malformasi
kongenital atau cacat lahir adalah suatu kelainan struktural, perilaku, faal, dan metabolik yang terjadi pada waktu
lahir. Cacat lahir merupakan penyebab kematian kelima, kira-kira 21% dari semua
kematian bayi. Beberapa jenis anomali :
1.
Malformasi Terjadi selama pembentukan struktur (organogenesis). Malformasi
dapat disebabkan faktor lingkungan dan genetik. Kebanyakan malformasi berawal
dari minggu ketiga sampai minggu kedelapan kehamilan. Anomali ini dapat
menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh struktur organ dan/atau
perubahan-perubahan konfigurasi normal.
2. Disrupsi Mengakibatkan perubahan morfologi
struktur organ setelah pembentukannya. Penyebabnya adalah proses-proses yang
merusak, seperti kecelakan pada pembuluh darah yang menyebabkan atresia usus
dan cacat yang ditimbulkan pita amnion.
3. Deformasi Disebabkan oleh
gaya-gaya mekanik dalam jangka waktu yang lama. . Deformasi sering kali
mengenai sistem kerangka otot. Anomali ini dapat sembuh setelah lahir.
4. Sindrom Sekelompok cacat yang terjadi
secara bersamaan, memiliki etiologi yang spesifik dan sama. Istilah ini
menunjukkan telah dibuat sebuah diagnosis dan risiko terjadinya kembali telah
diketahui.
Ilmu yang mempelajari sebab-sebab terjadinya
malformasi kongenital adalah teratologi. Teratologi merupakan cabang embriologi
yang khusus mengenai pertumbuhan struktural yang abnormal luar biasa. Oleh
pertumbuhan abnormal luar biasa itu lahir bayi atau dilahirkan janin yang
cacat. Bayi yang lahir cacat hebat itu disebut monster. Kembar dempet yang
pertautannya parah sekali disebut monster duplex. Pada orang setiap 50
kelahiran hidup rata-rata 1 yang cacat. Sedangkan dari yang digugurkan
perbandingan itu jauh lebih tinggi. Perbandingan bervariasai sesuai dengan
jenis cacat. Cacat yang sering juga ditemukan ialah seperti :
a.
Sirenomelus
(anggota seperti ikan duyung; anggota belakang tak
ada, anggota depan pendek )
b.
phocomelia
(anggota
seperti anjing laut ; tangan dan kaki seperti sirip untuk mendayung),
c.
polydactyly
(berjari
) 6),
d.
Syndactyly
(berjari 4), jari buntung, tak
berjari kaki dan tangan, ada ekor, dwarfisme (kerdil), kretinisme (cebol) dan
gigantisme (raksasa).
Secara
natural cacat itu sulit dipastikan apa penyebabnya yang khusus. Mungkin sekali
gabungan atau kerja sama berbagai faktor : genetis dan lingkungan. Secara
eksperimental dapat dibuat cacat, dengan mempergunakan salah satu teratogen
(penyebab teratogenesis) dan faktor yang lainnya. Teratogen itu bekerja lewat
proses :
1. Mengubah
kecepatan proliferasi sel
2.
Menghalangi sintesa enzim
3. Mengubah
permukaan sel sehingga agregasi tak benar
4. Mengubah matriks, yang mengganggu
perpindahan sel-sel
5. Merusak organizer atau gaya kompetensi
sel berespons. Seiring dengan kesadaran baru dari dalam rahim kerentanan
berkembang embrio mamalia datang pengembangan dan penyempurnaan
Enam Prinsip Teratology
yang masih diterapkan saat
ini. Prinsip-prinsip dari teratologi yang diajukan oleh James Wilson pada tahun
1959 dan dalam bukunya monografi Lingkungan dan Lahir Cacat.
Prinsip-prinsip panduan studi
dan pemahaman tentang agen teratogenik dan pengaruhnya terhadap organisme
berkembang:
1.
Kerentanan terhadap teratogenesis
tergantung pada genotipe konsepsi dan cara dimana ini berinteraksi dengan
faktor lingkungan yang merugikan.
2.
Kerentanan terhadap teratogenesis
bervariasi dengan tahap perkembangan pada saat terkena pengaruh yang merugikan.
Ada periode kritis dari kerentanan terhadap agen dan sistem organ terpengaruh
oleh agen ini.
3. Agen
teratogenik bertindak dengan cara tertentu pada pengembangan sel dan jaringan
untuk memulai urutan peristiwa perkembangan abnormal.
4. Akses
pengaruh yang merugikan pada jaringan berkembang tergantung pada sifat
mempengaruhi. Beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan teratogen untuk
kontak konsepsi berkembang, seperti sifat dari agen itu sendiri, rute dan
tingkat eksposur ibu, laju perpindahan plasenta dan penyerapan sistemik, dan
komposisi genotipe ibu dan embrio / janin.
5. Ada empat manifestasi pengembangan menyimpang
(Kematian, malformasi, Retardasi Pertumbuhan dan Cacat Fungsional).
6. Manifestasi
meningkatkan pembangunan menyimpang di frekuensi dan gelar sebagai meningkatkan
dosis dari No diamati Pengaruh Buruk Level (NOAEL) dengan dosis memproduksi
100% Lethality (LD100). Hasil Mayor janin tergantung pada tahap kehamilan yang
terkena, karena ada periode kritis bagi perkembangan proses janin dan organ.
Meskipun embriogenesis adalah kompleks yang melibatkan migrasi sel, proliferasi,
diferensiasi, dan organogenesis, orang dapat membagi tahap perkembangan dalam
tiga kategori besar: pra-implantasi, implantasi untuk organogenesis, dan janin
untuk tahap neonatal. Hasil terkait dengan eksposur selama periode ini
bervariasi. Ini bukan untuk mengatakan ada pengecualian berdasarkan tipenya.
Namun, hasil utama adalah sebagai berikut:
|
Tahap Eksposur
|
Hasil (s)
|
|
Pra-implantasi
|
Embrio
lethality
|
|
Implantasi
ke waktu organogenesis
|
Morfologi
cacat
|
|
Janin
→ tahap neonatal
|
Gangguan
fungsional, retardasi pertumbuhan, karsinogenesis
|
Sensitivitas
dari embrio ke induksi cacat morfologi meningkat selama periode organogenesis. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan
perkembangan embrio yaitu:
1.
Polydactili
merupakan kelainan pertumbuhan jari sehingga jumlah jari pada tangan atau kaki
lebih dari lima. Polidaktili
terjadi pada 1 dari 1.000 kelahiran. Penyebabnya bisa karena kelainan genetika atau faktor keturunan. Bentuknya
bisa berupa gumpalan daging, jaringan lunak, atau sebuah jari lengkap
dengan kuku dan ruas-ruas yang berfungsi normal. Tapi, umumnya hanya berupa
tonjolan daging kecil atau gumpalan daging bertulang yang tumbuh di sisi luar ibu jari atau jari kelingking.
![]() |
Gambar. Ibu jari yang mengalami
polidaktili
2.
Bibir
sumbing Bibir sumbing biasanya terjadi dalam 30-60 hari
pertama kehamilan. Bibir biasanya dibentuk oleh 5-6 minggu kehamilan dan
langit-langit telah dibentuk oleh 10 minggu. Penyebabnya yaitu kekurangan
vitamin B dan asam folat dalam diet ibu, warisan genetik orangtua yang dapat
menyampaikan gen penyebab clefts (bibir sumbing) serta pengkonsumsian
alkohol dan tembakau (khususnya
rokok).
![]() |
Gambar. Perbandingan dan tipe bibir
sumbing
3.
Agenesis adalah alat tubuh tidak dibentuk sama
sekali. Dalam embrio manusia, pembedaan tulang belakang lumbar, sakrum,
dan koksigis terjadi antara minggu keempat dan ketujuh. Banyak bentuk agenesis
yang mematikan, seperti tidak adanya seluruh otak (anencephaly), tapi agenesis
satu organ pasangan dapat menyebabkan sedikit masalah. Agenesis ginjal, kandung
kemih, testis, ovarium, tiroid, dan paru-paru dikenal. Agenesis dari lengan
atau kaki disebut meromelia (tidak adanya satu atau kedua tangan atau kaki), phocomelia
(tangan normal dan kaki tetapi tidak ada lengan atau kaki), dan amelia (tidak
lengkap anggota tubuh atau anggota badan). Agenesis dapat disebabkan oleh tidak
adanya jaringan embrio atau dengan paparan bahan kimia di dalam rahim, dan
sering dikaitkan dengan kelainan bawaan lainnya.
Gambar. Agenesis pada
organ tubuh bagian posterior
4.
Kinefelter's
Syndrome (XXY) Sindrom Klinefelter adalah
kelainan genetik pada laki-laki yang diakibatkan oleh kelebihan kromosom X. Laki-laki normal memiliki
kromosom seks berupa XY, namun penderita sindrom klinefelter umumnya
memiliki kromosom seks XXY. Penderita sindrom klinefelter akan mengalami
infertilitas, keterbelakangan mental, dan gangguan perkembangan ciri-ciri
fisik yang diantaranya berupa ginekomastia (perbesaran kelenjar susu dan
berefek pada perbesaran payudara), dll. Penyebabnya yaitu Kelebihan kromosom X
pada laki-laki. Ini terjadi karena nondisjungsi meiosis (meiotic
nondisjunction) kromosom seks selama terjadi gametogenesis (pembentukan gamet) pada salah satu orang tua. Beberapa penyebab
kecacatan yaitu:
a. Infeksi selama kehamilan
Infeksi bakteri, virus, protozoa dapat menyebabkan PJT. Rubela dan
cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi yang sering menyebabkan PJT
b. Kelainan bawaan dan
kelainan kromosom
Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom sel.
Kelainan kromosom seperti trisomi atau triploid dan kelainan jantung bawaan
yang berat sering berkaitan dengan PJT. Trisomi 18 berkaitan dengan PJT
simetris serta polihidramnion (cairan ketuban berlebih). Trisomi 13 dan
sindroma Turner juga berkaitan dengan PJT
c. Pajanan
teratogen (zat yang berbahaya bagi pertumbuhan janin)
Berbagai macam zat yang bersifat teratogen seperti
obat anti kejang, rokok, narkotik, dan alkohol dapat menyebabkan PJT
d Penyebab
uterus dan plasenta (ari-ari)
Pada plasenta, gangguan pasokan darah
ke uterus atau permukaan plasenta yang tidak luas dapat menyebabkan gangguan
pertumbuhan yang serius pada janin. Pelepasan plasenta pada
pinggir-pinggirnya dalam kehamilan muda disertai perdarahan dan pembentukan
parut disana (placenta circumvallata) bisa membatasi pertumbuhan janin dan
menyebabkan hambatan pertumbuhan interuterin. Implantasi plasenta pada daerah
serviks bisa menyebabkan pertumbuhan plasenta terbatas. Plasenta yang mempunyai
banyak infark kecil-kecil kehilangan luas permukaan untuk pertukaran dan
merusak pengangkutan substrat yang mencukupi kepada janin. Solusio plasenta
yang kronik mengurangi luas permukaaan fungsionalnya dan dengan demikian
juga dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan interuterin pada janin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar