Sabtu, 17 Januari 2015

VERTEBRATA KELAS AVES



BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diperoleh adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana evolusi dari Kelas Aves?
2.      Bagaimana karakteristik dari Kelas Aves?
3.      Bagaimana





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Asal Mula Burung

Gb. Fosil Archaeopteryx lithographica di gunung kapur Bavaria di Jerman
Adanya bulu mungkin sudah mungkin sudah cukup mengklasifikasikan seekor hewan sebagai burung, meskipun beberapa fosil dinosaurus yang dituemukan baru – baru ini kelihatannya memiliki bulu pendek dan halus. Tentu saja jika kita ingin melacak leluhur burung, kita harus mencari fosil tertua dengan bulu yang telah berfungsi untuk terbang. Fosil burung purba yang bernama Archaeopteryx lithographica di gunung kapur Bavaria di Jerman, yang berusia kira – kira 150 juta tahun, termasuk ke dalam masa Jura. Berbeda dari burung modern, tetapi mirip dengan reptilia, Archaeopteryx lithographica memiliki kaki depan yang bercakar,geligi, dan ekor yang panjang yang mengandung vertebra. Sebenarnya jika bukan karena masih adanya bulu, Archaeopteryx akan dianggap sebagai kelompok yang beranekaragam dari karnivora dinasourus kecil berkaki dua yang disebut teropoda. Sama seperti burung, banyak dinosaurus termasuk beberapa teropoda. Sama seperti burung, banyak dinosaurus termasuk beberapa teropoda, menbangun sarang dan merawat anaknya.
            Archaeopteryx tidak dianggap sebagai leluhur burung modern, dan para ahli paleontologi menempatkannya pada cabang di samping garis keturunan burung. Namun demikian, Archaeopteryx kemungkinan telah diturunkan dari bentuk leluhur yang juga menurunkan burung modern. Anatomi kerangkanya menunjukan bahwa Archaeopteryx adalah penerbang yang lemah, mungkin hanya penghuni pohon yang suka meluncur turun (tree - dwelling glider). Kombinasi meluncur turun dan melompat ke udara dari permukaan tanah mungkin merupakan cabang terbang paling awal pada garis keturunan burung.
Analisis kladistik yang ekstensif telah meyakinkan banyak peneliti bahwa burung berkembang dari dinosaurus teropoda. Namun demikian, perdebatan hangat terus berlangsung dengan adanya beberapa ahli biologi yang berpendapat bahwa garis keturunan burung memisah dari sekelompok reptilia di awal masa Mezoikum, yang disebut dengan tekodon, yang juga menurunkan dinosaurus.
2.2. Karakteristik Burung
Hampir setiap bagian dari anatomi burung yang termodifikasi dalam beberapa hal untuk meningkatkan kemampuan terbang. Tulang-tulang burung memiliki struktur internal yang menyerupai sarang lebah, yang membuat mereka kuat namun ringan. Kerangka burung frigate, misalnya dapat merentangkan sayap sepanjang lebih dari 2 meter dengan berat hanya sekitar 113 g. Adaptasi lain yang mengurangi adalah tidak adanya beberapa organ. Burung betina, misalnya, hanya memiliki satu ovarium. Selain itu, burung modern juga tidak bergigi, suatu adaptasi yang mengurangi bobot kepala. Makanan tidak dikunyah di dalam empedal, suatu organ pencernaan yang terletak dekat lambung. (Buaya juga memiliki empedal, dan juga beberapa dinosaurus). Paruh burung yang terbuat dari  beberapa spesies memberikan penyekatan yang memungkinkan unggas untuk mempertahankan panas yang dihasilkan dari metabolisme tersebut. Sebuah sistem pernapasan yang efisien dan sebuahsistem peredaran darah dengan sebuah jantung empat ruang menjaga agar jaringan tetap mendapat suplai oksigen dan zat – zat  makanan yang mencukupi, sehingga mendukung laju metabolisme yang kuat. Paru – paru yang efisien memiliki pipa halus yang menuju ke dan dari kantung udara yang membantu membuang panas dan kerapatan tubuh.
Untuk penerbangan yang aman, alat indera, khususnya penglihatan, harus tajam. Burung memiliki penglihatan yang bagus, bisa dibilang terbaik diantara vertebrata. Daerah penglihatan di otak berkembang sangat baik, seperti hanya juga daerah motorik; penerbangan juga memerlukan koordinasi yang sangat bagus.
Dengan otak yang secara proporsional lebih besar dibandingkan dengan otak reptilia dan amfibia, burung umumnya memperlihatkan perilaku yang sangat kompleks. Tingkah laku burung khususnya sangat rumit selama musim kawin, yaitu ketika burut terlibat percumbuan yang sangat rumit. Karena telur sudah bercangkang saat dikeluarkan jadi fertilisasi harus terjadi secara internal. Kopulasi kloakanya masing – masing. Setelah telur diletakkan, embrio burung harus dipertahankan dan dijaga supaya tetap hangat dengan dierami oleh induk betina, induk jantan, atau keduanya, bergantung pada spesies.
Adaptasi burung paling jelas saat terbang adalah sayap. Sayap burung merupakan airfoil yang mengambarkan prinsip aerodinamika yang sama seperti sayap pesawat terbang. Untuk menyediakan kekuatan untuk terbang, burung mengepakkan sayapnya dengan cara kontraksi otot pektoral (dada) besar yang ditambatkan ke suatu taju (keel) pada tulang dada (sternum). Beberapa burung seperti burung rajawali dan elang, memiliki sayap yang diadaptasikan untuk meluncur hanya sesekali mengepakkan sayapnya, jika burung lain termasuk kolibri, harus mengepakkan sayapnya terus menerus untuk mempertahankan dirinya tetap melayang di udara. Pada kedua kasus tersebut, bentuk dan pengaturan bulu itulah yang membentuk sayap menjadi suatu airfoil.
Bulu adalah adaptasi vertebrata yang paling luar biasa karena sangat ringan dan kuat. Bulu terbuat dari keratin, protein yang juga menyusun rambut dan kuku kita dan sisik pada reptilia. Pertama kali bulu kemungkinan berfungsi sebagai pengyekat selama evolusi hewan endoterm, setelah itu baru dimanfaatkan sebagai peralatan terbang. Selain menyokong dan membentuk sayap, bulu juga dapat dimanipulasi untuk mengontrol pergerakan udara di sekitar sayap.
Evolusi terbang memerlukan perubahan radikal dalam bentuk tubuh, akan tetapi terbang juga memberi banyak keuntungan. Terbang meningkatkan kemampuan berburu dan mencari bangkai; banyak burung yang mengeksploitasi serangga yang dapat terbang merupakan sumber makanan yang sangat melimpah dan bergizi. Terbang juga memungkinkan burung untuk melarikan diri dengan mudah dari para pemangsa yang hidup hanya di permukaan tananh dan memungkinkan beberapa burung untuk berpindah tempat sangat jauh dan memanfaatkan sumber daya makanan dan daerah kawin musiman yang berbeda.
2.3. Klasifikasi Burung
Terdapat 8600 spesies burung yang masih hidup yang dikelompokkan ke dalam kurang lebih 28 ordo. Kemampuan terbang adalah ciri khas burung, tetapi ada beberapa spesies yang tidak terbang, yang meliputi spesies burung unta, kiwi, dan emu. Burung yang tidak terbang secara kolektif disebut sebagai ratita (dari bahasa Latin yang berarti berbokong rata) karena tulang dadanya tidak memiliki taju dan otot dada besar yang bertaut ke taju seperti pada burung yang dapat  terbang.
            Berlawanan dengan ratita, burung lain disebut karinata karena mereka memiliki suatu carina, atau taju dada, yang menyokong otot dadanya yang besar. Otot ini menyediakan kekuatan terbang pada burung terbang. Kebutuhan untuk terbang telah menghasilkan bentuk tubuh umum burung karinata yang mirip satu sama lain, namun para pengamat burung yang berpengalaman dapat membedakan banyak spesies hanya dengan melihat penampilan tubuhnya saja. Burung karinata juga menujukan beragam pola pewarnaan bulu, bentuk paruh, kaki, tingkah laku dan gaya terbang. Salah satu diantara burung karinata yang paling unik adalah penguin, yang tidak dapat terbang, tetapi menggunakan ototnya yang sangat kuat itu untuk berenang. Hampir 60 % spesies burung yang hidup termasuk ke dalam karinata disebut dengan passeriformes, atau burung bertengger. Beberapa anggota ordo tersebut adalah burung jay, burung layang – layang, burung pipit, burung pengicau, dan banyak lain lagi yang sudah kita kenal. Berikut merupakan sistem klasifikasi burung:
            Kingdom         : Animalia
            Filum               : Chordata
            Class                : Aves
Subclass (1)  : Archaeornithes ; berasal dari kata archaios yang artinya kuno dan ornis artinya burung, Archaeornithes merupakan burung yang muncul setelah    masa Jurassic dan ketika awal masa Cretaceous. Ex. Archaeopteryx.
Subclass (2) : Neornithes, berasal dari kata neos, artinya baru dan ornis     artinya burung. Neornithes ; burung mengalami perkembangan sternum yg baik dan biasanya terdapat taju, menghilangnya ekor, metacarpal dan carpal menyatu.
Superordo (1) : Paleognathae, berasal dari kata palaios yang artinya  kuno, dan gnatos artinya rahang. Paleognatha termasuk kedalam kelompok burung modern yang memiliki langit  - langit mulut yang primitif mirip Archosaurian, ratita (dengan taju dada), tinamous (tidak memiliki taju dada)
Ordo    :  Struthioniformes, merupakan kelompok burung yang ukurannya terbesar dan tidak bisa terbang, yaitu Burung Unta dari Afrika.
Ordo        :    Rheiformes, burung yang tidak bisa terbang, yaitu Burung Unta Amerika
Ordo   : Casuariiformes, burung yang memiliki kemampuan terbang terbatas, yaitu Kasuari dan Emu
Ordo       : Apterygiformes, yang termasuk ke dalam ordo ini adalah Burung Kiwi, yang hanya ditemukan di Selandia Baru.
Ordo    : Tinamiformes, kelompok burung-burung kecil, terestrial, tak pandai terbang, contoh spesiesnya Eudrema elegans yang berhabitat di Amerika Latin
Superordo (2) : Neognathae, berasal dari kata neos yang artinya baru, dan gnatos artinya rahang. Kemudian  memiliki langit – langit yang fleksibel.
Ordo : Sphenisciformes , merupakan burung yang memiliki sayap pendek, jari – jari kaki berselaput yang merupakan perenang laut selatan dari Antartika menuju kepulauan Galapagos. Contohnya: Penguin.
Ordo : Gaviiformes, perenang yang luar biasadan
penyelam dengan kaki pendek dan badan berat.  Mereka hidup secara eksklusif dengan memangsa ikan dan sedikit air. Ditemukan terutama di bagian utara perairan Amerika Utara dan Eurasia.
Ordo : Podicipediformes, salah satunya adalah jenis burung Grebe. Grebe memiliki kaki pendek dan berselaput, memiliki sayap yang sempit, dan beberapa spesies dapat terbang rendah. Dua spesies di Amerika Selatan tidak dapat terbang sama sekali. Mereka merespon bahaya dengan menyelam daripada terbang. Kemudian terdapat hampir 18 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Procellariiformes termasuk ke dalam jenis – jenis burung laut, seperti elang laut, dengan paruh bengkok, lubang hidung tubular, lebar sayap sekitar 3,6 meter pada beberapa spesies. Elang laut adalah yang terbesar dari spesies ini. sekitar 1000 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Pelecaniformes, salah satu species dari ordo ini adalah Burung Pelikan, yang merupakan salah satu anggota kolonial pemakan ikan dengan kantung tenggorokan dan dengan keempat jari kakinya. Sekitar 55 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Ciconiiformes, salah satu spesiesnya yaitu Burung Bangau yang memiliki leher panjang, kaki panjang, yang merupakan burung penyeberang yang kebanyakan merupakan burung yang berkoloni. Sekitar 90 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Anseriformes, para anggota ordo ini yaitu angsa , bebek, yang memiliki tulang dada yang panjang, taju pendek. Sekitar 150 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Falconiformes, yang termasuk ke dalam ordo ini adalah Burung Elang,merupakan pemangsa dan penerbang yang kuat. Terdapat 270 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Galliformes, contoh spesiesnya burung Puyuh, Belibis, Ptarmigan, Kalkun dan Unggas Domestik. Burung tersebut memiliki paruh yang kuat dan kaki yang berat. Terdapat 250 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
Ordo  :  Gruiformes, burung Jenjang terdiri dari 2 subordo, 4 genus dan 15 spesies yang terdapat di seluruh benua kecuali di Antartika dan Amerika Selatan. Semua spesies mempunyai ciri-ciri berupa paruh, leher dan kaki yang panjang. Pada burung Jenjang ukuran besar, tinggi badan bisa mencapai sekitar 1 meter. Warna bulu bisa hitam, putih dan merah dengan badan berukuran besar sehingga terlihat sangat mencolok di alam terbuka. Ciri khas lain pada kulit bagian muka bagian tertentu yang tidak ditumbuhi bulu. Sekitar 215 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo :  Charadriiformes, contoh spesies burung camar , penangkap tiram, plovers, Trinil, Terns, Woodcocks, Turnstones, Lapwing, Berkik, Avocet, Phalaropes, Skuas, Skimmer, Auks, Puffins. Semuanya burung pantai. Mereka adalah penerbang yang kuat dan biasanya hidup ber koloni. Sekitar 330 spesies, distribusi di seluruh dunia.
Ordo: Columbiformes, contoh spesiesnya merpati. Semua memiliki leher pendek, kaki yang pendek, dan pendek, ramping. Sekitar 290 spesies, tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Psittaciformes, yang termasuk ke dalam ordo ini adalah  burung Beo, Parkit. Burung dengan engsel dan paruh atas yang bisa digerakkan, lidah berdaging. Sekitar 320 spesies, tersebar pantropikal.
Ordo : Musophagiformes, yaitu dengan spesiesny Turacos. Medium burung dominan pada hutan lebat atau tepi hutan dengan tampalan mencolok warna merah pada sayap yang terbuka. paruh berwarna cerah, sayap pendek dan bulat. Enam spesies terbatas pada Afrika
Ordo : Cuculiformes, yaitu Cuckoo Eropa (Cuculus canorus) bertelur di sarang burung yang lebih kecil, yang belakang cuckoos muda. itu Cuckoos Amerika,paruh berwarna hitam dan kuning. Sekitar 150 spesies, terdapat di seluruh dunia.
Ordo : Strigiformes , contohnya burung hantu. Burung hantu adalah hewan nocturnal ,predator dengan mata besar,  paruh kuat dan kaki yang kuat pula . Sekitar 135 spesies, terdistribusi di seluruh dunia.
Ordo : Caprimulgiformes, yang termasuk ke dalam ordo ini adalah Burung Nighthawks, Whippoorwill, pemangsa malam dan senja sebelum malam, memiliki kaki yang lemah, mulut lebar yang dipinggirnya terdapat bulu – bulu. Sekitar 95 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Apodiformes, anggota ordo  ini burung Swift dan Hummingbird, yaitu burung kecil yang memiliki kaki kecil dan kepakan sayap yang cepat. Spesies Swift bisa ditemukan di China dan sebagian besar spesies Hummingbird ditemukan di daerah tropis. Sekitar 14 spesies tersebar di Amerika Serikat. Sekitar 400 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Colliformes, anggota ordo ini adalah Burung Mousebird, merupakan burung kecil yang memiliki kekerabatan yang kurang jelas. Enam spesies tersebar di Africa Selatan.
Ordo : Trogoniformes, contohnya adalah Burung Trogon, kaya akan warna, memiliki ekor yang panjang, sekitar 35 spesies mengalami persebaran pantropical.
Ordo : Coraciiformes, yaitu Burung Hornbill, Kingfisher, yaitu burung yang memiliki paruh yang kuat. Kingifisher bisa ditemukan di bagian barat Amerika Serikat. Sekitar 200 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Piciformes, yang termasuk ke dalam ordo ini adalah Burung Toucans, Puffbirds, Honeyguides, yaitu burung dengan paruh yang khusus, memiliki dua jari di depan dan di belakang. Sekitar 380 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Passeriformes, ordo ini memiliki anggota paling banyak dan terbesar, terdapat 56 famili, dan 60 persen dari kelas aves adalah ordo Passeriformes. Contoh dari ordo ini Burung Walet, Magpie, Starling, Rows, Raven, Jays,Nuthatch, and Creeper. Lebih dari 5000 spesies tersebar di seluruh dunia.

2.4. Peranan  Dalam Ekosistem
1. Membantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara posisi benang sari dan putik. Berdasarkan hasil 54 Jurnal Wahana-Bio Volume IV Desember 2010 penelitian di Kawasan Agroplitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, burung yang termasuk memiliki peranan tersebut adalah Burung Madu Sepah Raja (Aethopyga siparaja).
2. Sebagai predator hama (serangga yang merugikan, tikus, dsb.). Apabila serangga yang dimangsa merupakan serangga yang menguntungkan, maka akan berdampak tidak baik untuk perkebunan dan pertanian. Sebaliknya, apabila serangga yang dimangsa lebih banyak serangga yang merupakan hama, maka akan menguntungkan dan berdampak baik bagi perkebunan dan pertanian. Berdasarkan hasil penelitian di Kawasan Agroplitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, burung yang termasuk memiliki peranan tersebut adalah Layang-layang (Delichon dasypus), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Bentet Kelabu (Lanius schach), Burung Gereja (Passer montanus), Elang Bondol (Halistur indus), Bubut (Centropus bengalensis), Perenjak (Prinia flaviventris), Elang Tikus (Elanus caeruleus), Elang hitam (Ictinaetus malayensis), Walet (Collocalia esculenta), Sikatan Bubik ( Muscicapa dauurica), Burung Tikusan (Porzana cinerea), dan Raja Udang (Halycon pileata).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar