BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan
latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diperoleh adalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana
evolusi dari Kelas Aves?
2. Bagaimana
karakteristik dari Kelas Aves?
3. Bagaimana
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Asal Mula Burung
Gb. Fosil Archaeopteryx lithographica di gunung kapur Bavaria di Jerman
Adanya bulu mungkin sudah mungkin sudah
cukup mengklasifikasikan seekor hewan sebagai burung, meskipun beberapa fosil
dinosaurus yang dituemukan baru – baru ini kelihatannya memiliki bulu pendek
dan halus. Tentu saja jika kita ingin melacak leluhur burung, kita harus
mencari fosil tertua dengan bulu yang telah berfungsi untuk terbang. Fosil
burung purba yang bernama Archaeopteryx
lithographica di gunung kapur Bavaria di Jerman, yang berusia kira – kira
150 juta tahun, termasuk ke dalam masa Jura. Berbeda dari burung modern, tetapi
mirip dengan reptilia, Archaeopteryx
lithographica memiliki kaki depan yang bercakar,geligi, dan ekor yang
panjang yang mengandung vertebra. Sebenarnya jika bukan karena masih adanya
bulu, Archaeopteryx akan dianggap
sebagai kelompok yang beranekaragam dari karnivora dinasourus kecil berkaki dua
yang disebut teropoda. Sama seperti burung, banyak dinosaurus termasuk beberapa
teropoda. Sama seperti burung, banyak dinosaurus termasuk beberapa teropoda, menbangun
sarang dan merawat anaknya.
Archaeopteryx tidak dianggap sebagai
leluhur burung modern, dan para ahli paleontologi menempatkannya pada cabang di
samping garis keturunan burung. Namun demikian, Archaeopteryx kemungkinan telah
diturunkan dari bentuk leluhur yang juga menurunkan burung modern. Anatomi
kerangkanya menunjukan bahwa Archaeopteryx adalah penerbang yang lemah, mungkin
hanya penghuni pohon yang suka meluncur turun (tree - dwelling glider). Kombinasi meluncur turun dan melompat ke
udara dari permukaan tanah mungkin merupakan cabang terbang paling awal pada
garis keturunan burung.
Analisis
kladistik yang ekstensif telah meyakinkan banyak peneliti bahwa burung
berkembang dari dinosaurus teropoda. Namun demikian, perdebatan hangat terus
berlangsung dengan adanya beberapa ahli biologi yang berpendapat bahwa garis
keturunan burung memisah dari sekelompok reptilia di awal masa Mezoikum, yang
disebut dengan tekodon, yang juga menurunkan dinosaurus.
2.2.
Karakteristik Burung
Hampir
setiap bagian dari anatomi burung yang termodifikasi dalam beberapa hal untuk
meningkatkan kemampuan terbang. Tulang-tulang burung memiliki struktur internal
yang menyerupai sarang lebah, yang membuat mereka kuat namun ringan. Kerangka
burung frigate, misalnya dapat merentangkan sayap sepanjang lebih dari 2 meter
dengan berat hanya sekitar 113 g. Adaptasi lain yang mengurangi adalah tidak
adanya beberapa organ. Burung betina, misalnya, hanya memiliki satu ovarium.
Selain itu, burung modern juga tidak bergigi, suatu adaptasi yang mengurangi
bobot kepala. Makanan tidak dikunyah di dalam empedal, suatu organ pencernaan
yang terletak dekat lambung. (Buaya juga memiliki empedal, dan juga beberapa
dinosaurus). Paruh burung yang terbuat dari beberapa spesies memberikan penyekatan yang
memungkinkan unggas untuk mempertahankan panas yang dihasilkan dari metabolisme
tersebut. Sebuah sistem pernapasan yang efisien dan sebuahsistem peredaran
darah dengan sebuah jantung empat ruang menjaga agar jaringan tetap mendapat
suplai oksigen dan zat – zat makanan
yang mencukupi, sehingga mendukung laju metabolisme yang kuat. Paru – paru yang
efisien memiliki pipa halus yang menuju ke dan dari kantung udara yang membantu
membuang panas dan kerapatan tubuh.
Untuk penerbangan yang aman, alat
indera, khususnya penglihatan, harus tajam. Burung memiliki penglihatan yang
bagus, bisa dibilang terbaik diantara vertebrata. Daerah penglihatan di otak
berkembang sangat baik, seperti hanya juga daerah motorik; penerbangan juga
memerlukan koordinasi yang sangat bagus.
Dengan otak yang secara proporsional
lebih besar dibandingkan dengan otak reptilia dan amfibia, burung umumnya
memperlihatkan perilaku yang sangat kompleks. Tingkah laku burung khususnya
sangat rumit selama musim kawin, yaitu ketika burut terlibat percumbuan yang
sangat rumit. Karena telur sudah bercangkang saat dikeluarkan jadi fertilisasi
harus terjadi secara internal. Kopulasi kloakanya masing – masing. Setelah
telur diletakkan, embrio burung harus dipertahankan dan dijaga supaya tetap
hangat dengan dierami oleh induk betina, induk jantan, atau keduanya,
bergantung pada spesies.
Adaptasi burung paling jelas saat
terbang adalah sayap. Sayap burung merupakan airfoil yang mengambarkan prinsip
aerodinamika yang sama seperti sayap pesawat terbang. Untuk menyediakan
kekuatan untuk terbang, burung mengepakkan sayapnya dengan cara kontraksi otot
pektoral (dada) besar yang ditambatkan ke suatu taju (keel) pada tulang dada
(sternum). Beberapa burung seperti burung rajawali dan elang, memiliki sayap yang
diadaptasikan untuk meluncur hanya sesekali mengepakkan sayapnya, jika burung
lain termasuk kolibri, harus mengepakkan sayapnya terus menerus untuk
mempertahankan dirinya tetap melayang di udara. Pada kedua kasus tersebut,
bentuk dan pengaturan bulu itulah yang membentuk sayap menjadi suatu airfoil.
Bulu adalah adaptasi vertebrata yang
paling luar biasa karena sangat ringan dan kuat. Bulu terbuat dari keratin,
protein yang juga menyusun rambut dan kuku kita dan sisik pada reptilia.
Pertama kali bulu kemungkinan berfungsi sebagai pengyekat selama evolusi hewan
endoterm, setelah itu baru dimanfaatkan sebagai peralatan terbang. Selain
menyokong dan membentuk sayap, bulu juga dapat dimanipulasi untuk mengontrol
pergerakan udara di sekitar sayap.
Evolusi
terbang memerlukan perubahan radikal dalam bentuk tubuh, akan tetapi terbang
juga memberi banyak keuntungan. Terbang meningkatkan kemampuan berburu dan
mencari bangkai; banyak burung yang mengeksploitasi serangga yang dapat terbang
merupakan sumber makanan yang sangat melimpah dan bergizi. Terbang juga
memungkinkan burung untuk melarikan diri dengan mudah dari para pemangsa yang
hidup hanya di permukaan tananh dan memungkinkan beberapa burung untuk
berpindah tempat sangat jauh dan memanfaatkan sumber daya makanan dan daerah kawin
musiman yang berbeda.
2.3.
Klasifikasi Burung
Terdapat 8600 spesies burung yang masih
hidup yang dikelompokkan ke dalam kurang lebih 28 ordo. Kemampuan terbang
adalah ciri khas burung, tetapi ada beberapa spesies yang tidak terbang, yang
meliputi spesies burung unta, kiwi, dan emu. Burung yang tidak terbang secara
kolektif disebut sebagai ratita (dari bahasa Latin yang berarti berbokong rata)
karena tulang dadanya tidak memiliki taju dan otot dada besar yang bertaut ke
taju seperti pada burung yang dapat
terbang.
Berlawanan dengan ratita, burung
lain disebut karinata karena mereka memiliki suatu carina, atau taju dada, yang menyokong otot dadanya yang besar.
Otot ini menyediakan kekuatan terbang pada burung terbang. Kebutuhan untuk
terbang telah menghasilkan bentuk tubuh umum burung karinata yang mirip satu
sama lain, namun para pengamat burung yang berpengalaman dapat membedakan
banyak spesies hanya dengan melihat penampilan tubuhnya saja. Burung karinata
juga menujukan beragam pola pewarnaan bulu, bentuk paruh, kaki, tingkah laku
dan gaya terbang. Salah satu diantara burung karinata yang paling unik adalah
penguin, yang tidak dapat terbang, tetapi menggunakan ototnya yang sangat kuat
itu untuk berenang. Hampir 60 % spesies burung yang hidup termasuk ke dalam
karinata disebut dengan passeriformes,
atau burung bertengger. Beberapa anggota ordo tersebut adalah burung jay,
burung layang – layang, burung pipit, burung pengicau, dan banyak lain lagi
yang sudah kita kenal. Berikut merupakan sistem klasifikasi burung:
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Class : Aves
Subclass
(1) : Archaeornithes ; berasal dari kata archaios
yang artinya kuno dan ornis artinya
burung, Archaeornithes merupakan burung yang muncul setelah masa Jurassic dan ketika awal masa
Cretaceous. Ex. Archaeopteryx.
Subclass (2) : Neornithes,
berasal dari kata neos, artinya baru dan ornis artinya burung.
Neornithes ; burung mengalami perkembangan
sternum yg baik dan biasanya terdapat taju, menghilangnya ekor, metacarpal dan
carpal menyatu.
Superordo (1) : Paleognathae,
berasal dari kata palaios yang
artinya kuno, dan gnatos artinya rahang. Paleognatha termasuk kedalam kelompok burung
modern yang memiliki langit - langit
mulut yang primitif mirip Archosaurian, ratita (dengan taju dada), tinamous
(tidak memiliki taju dada)
Ordo : Struthioniformes,
merupakan kelompok burung yang ukurannya terbesar dan tidak bisa terbang, yaitu
Burung Unta dari Afrika.
Ordo : Rheiformes,
burung yang tidak bisa terbang, yaitu Burung Unta Amerika
Ordo : Casuariiformes, burung yang memiliki
kemampuan terbang terbatas, yaitu Kasuari dan Emu
Ordo : Apterygiformes, yang termasuk ke dalam ordo
ini adalah Burung Kiwi, yang hanya ditemukan di Selandia Baru.
Ordo : Tinamiformes, kelompok
burung-burung kecil, terestrial, tak pandai terbang,
contoh spesiesnya Eudrema elegans
yang berhabitat di Amerika Latin
Superordo
(2) : Neognathae, berasal dari kata neos
yang artinya baru, dan gnatos artinya
rahang. Kemudian memiliki langit –
langit yang fleksibel.
Ordo
: Sphenisciformes , merupakan burung yang memiliki sayap
pendek, jari – jari kaki berselaput yang merupakan perenang laut selatan dari
Antartika menuju kepulauan Galapagos. Contohnya: Penguin.
Ordo
: Gaviiformes, perenang yang luar
biasadan
penyelam dengan kaki pendek dan badan berat. Mereka hidup secara eksklusif dengan memangsa ikan dan sedikit air. Ditemukan terutama di bagian utara perairan Amerika Utara dan Eurasia.
penyelam dengan kaki pendek dan badan berat. Mereka hidup secara eksklusif dengan memangsa ikan dan sedikit air. Ditemukan terutama di bagian utara perairan Amerika Utara dan Eurasia.
Ordo : Podicipediformes,
salah satunya adalah jenis burung Grebe. Grebe memiliki kaki pendek dan berselaput, memiliki sayap yang sempit,
dan beberapa spesies dapat terbang rendah. Dua spesies di Amerika Selatan tidak
dapat terbang sama sekali. Mereka merespon bahaya dengan menyelam daripada
terbang. Kemudian terdapat hampir 18 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Procellariiformes termasuk ke dalam jenis – jenis burung laut, seperti elang laut,
dengan paruh bengkok, lubang hidung tubular, lebar sayap sekitar 3,6 meter pada
beberapa spesies. Elang laut adalah yang terbesar dari spesies ini. sekitar
1000 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Pelecaniformes,
salah satu species dari ordo ini adalah Burung Pelikan, yang merupakan salah
satu anggota kolonial pemakan ikan dengan kantung tenggorokan dan dengan
keempat jari kakinya. Sekitar 55 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Ciconiiformes, salah
satu spesiesnya yaitu Burung Bangau yang memiliki leher panjang, kaki panjang,
yang merupakan burung penyeberang yang kebanyakan merupakan burung yang
berkoloni. Sekitar 90 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Anseriformes, para
anggota ordo ini yaitu angsa , bebek, yang memiliki tulang dada yang panjang,
taju pendek. Sekitar 150 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Falconiformes, yang
termasuk ke dalam ordo ini adalah Burung Elang,merupakan pemangsa dan penerbang
yang kuat. Terdapat 270 spesies yang tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Galliformes, contoh
spesiesnya burung Puyuh, Belibis, Ptarmigan, Kalkun dan Unggas Domestik. Burung
tersebut memiliki paruh yang kuat dan kaki yang berat. Terdapat 250 spesies
yang tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Gruiformes, burung
Jenjang terdiri dari 2 subordo, 4 genus dan 15 spesies yang terdapat di seluruh
benua kecuali di Antartika dan Amerika Selatan. Semua spesies mempunyai
ciri-ciri berupa paruh, leher dan kaki yang panjang. Pada burung Jenjang ukuran
besar, tinggi badan bisa mencapai sekitar 1 meter. Warna bulu bisa hitam, putih
dan merah dengan badan berukuran besar sehingga terlihat sangat mencolok di
alam terbuka. Ciri khas lain pada kulit bagian muka bagian tertentu yang tidak
ditumbuhi bulu. Sekitar 215 spesies tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Charadriiformes, contoh
spesies burung camar , penangkap
tiram, plovers, Trinil,
Terns, Woodcocks, Turnstones, Lapwing, Berkik,
Avocet, Phalaropes, Skuas, Skimmer, Auks,
Puffins. Semuanya burung pantai. Mereka adalah penerbang yang kuat dan biasanya hidup ber koloni. Sekitar 330 spesies, distribusi
di seluruh dunia.
Ordo: Columbiformes, contoh
spesiesnya merpati. Semua memiliki leher pendek, kaki
yang pendek, dan pendek, ramping. Sekitar 290 spesies,
tersebar di seluruh dunia.
Ordo : Psittaciformes, yang termasuk ke dalam ordo ini
adalah burung Beo, Parkit.
Burung dengan engsel dan paruh atas yang
bisa digerakkan, lidah berdaging.
Sekitar 320 spesies, tersebar
pantropikal.
Ordo : Musophagiformes,
yaitu dengan spesiesny Turacos. Medium burung dominan pada hutan lebat atau tepi
hutan dengan tampalan mencolok warna merah pada sayap yang terbuka. paruh
berwarna cerah, sayap pendek dan bulat. Enam spesies terbatas pada Afrika
Ordo : Cuculiformes,
yaitu Cuckoo
Eropa (Cuculus canorus) bertelur
di sarang burung
yang lebih kecil, yang belakang cuckoos muda.
itu Cuckoos Amerika,paruh
berwarna hitam dan kuning. Sekitar 150 spesies, terdapat di seluruh dunia.
Ordo : Strigiformes ,
contohnya burung hantu. Burung hantu adalah
hewan nocturnal ,predator dengan mata besar, paruh kuat dan kaki yang kuat pula . Sekitar 135 spesies, terdistribusi
di seluruh dunia.
Ordo : Caprimulgiformes,
yang termasuk ke dalam ordo ini adalah Burung Nighthawks, Whippoorwill,
pemangsa malam dan senja sebelum malam, memiliki kaki yang lemah, mulut lebar
yang dipinggirnya terdapat bulu – bulu. Sekitar 95 spesies tersebar di dunia.
Ordo : Apodiformes, anggota ordo ini burung Swift dan Hummingbird, yaitu
burung kecil yang memiliki kaki kecil dan kepakan sayap yang cepat. Spesies
Swift bisa ditemukan di China dan sebagian besar spesies Hummingbird ditemukan
di daerah tropis. Sekitar 14 spesies tersebar di Amerika Serikat. Sekitar 400
spesies tersebar di dunia.
Ordo : Colliformes, anggota ordo ini adalah Burung
Mousebird, merupakan burung kecil yang memiliki kekerabatan yang kurang jelas.
Enam spesies tersebar di Africa Selatan.
Ordo : Trogoniformes, contohnya adalah Burung
Trogon, kaya akan warna, memiliki ekor yang panjang, sekitar 35 spesies
mengalami persebaran pantropical.
Ordo : Coraciiformes, yaitu Burung Hornbill,
Kingfisher, yaitu burung yang memiliki paruh yang kuat. Kingifisher bisa
ditemukan di bagian barat Amerika Serikat. Sekitar 200 spesies tersebar di
seluruh dunia.
Ordo : Piciformes, yang termasuk ke dalam ordo ini
adalah Burung Toucans, Puffbirds, Honeyguides, yaitu burung dengan paruh yang
khusus, memiliki dua jari di depan dan di belakang. Sekitar 380 spesies
tersebar di seluruh dunia.
Ordo :
Passeriformes, ordo ini memiliki anggota paling banyak dan terbesar, terdapat
56 famili, dan 60 persen dari kelas aves adalah ordo Passeriformes. Contoh dari
ordo ini Burung Walet, Magpie, Starling, Rows, Raven, Jays,Nuthatch,
and Creeper. Lebih dari 5000 spesies tersebar di seluruh dunia.
2.4.
Peranan Dalam Ekosistem
1.
Membantu penyerbukan tanaman, khususnya tanaman yang mempunyai perbedaan antara
posisi benang sari dan putik. Berdasarkan hasil 54 Jurnal Wahana-Bio Volume
IV Desember 2010 penelitian di
Kawasan Agroplitan Kecamatan Mandastana Kabupaten
Barito
Kuala, burung yang termasuk memiliki peranan tersebut adalah Burung Madu Sepah
Raja (Aethopyga siparaja).
2.
Sebagai predator hama (serangga yang merugikan, tikus, dsb.). Apabila serangga
yang dimangsa merupakan serangga yang menguntungkan, maka akan berdampak tidak
baik untuk perkebunan dan pertanian. Sebaliknya, apabila serangga yang dimangsa
lebih banyak serangga yang merupakan hama, maka akan menguntungkan dan
berdampak baik bagi perkebunan dan pertanian. Berdasarkan hasil penelitian di
Kawasan Agroplitan Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala, burung yang termasuk
memiliki peranan tersebut adalah Layang-layang (Delichon dasypus), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Bentet
Kelabu (Lanius schach), Burung Gereja (Passer montanus), Elang Bondol (Halistur
indus), Bubut (Centropus bengalensis), Perenjak (Prinia flaviventris), Elang
Tikus (Elanus caeruleus), Elang
hitam (Ictinaetus malayensis), Walet (Collocalia esculenta), Sikatan Bubik ( Muscicapa dauurica), Burung
Tikusan (Porzana cinerea), dan Raja
Udang (Halycon pileata).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar